Breaking News:

News Video

Foto-foto Ephorus HKBP Melayat Almarhum Pdt PWT Simanjuntak di Rumah Duka Sentosa RSPAD Jakarta

Ephorus HKBP Robinson Butarbutar melayat almarhum Pdt PWT Simanjuntak di Rumah Duka Sentosa RSPAD Jakarta, Minggu (30/5/2021)

Sebagian besar menolak campur tangan pemerintah.

Penyelenggaraan Sinode Agung Istimewa (SAI) pertengahan Februari 1994 semakin memperuncing keadaan.

Dalam Sinode itu, terpilih Pendeta PWT Simanjuntak sebagai Ephorus dan Pdt SM Siahaan sebagai Sekretaris Jenderal.

Penindasan oleh preman dan konon didukung aparat keamanan ditujukan kepada pendukung SAE Nababan yang menamakan diri Setia Sampai Akhir (SSA).

Kala itu, muncul anggapan bahwa aparat keamanan tidak netral, tapi mem-back up setiap aksi kelompok pimpinan Dr PWT Simanjuntak dan Dr SM Siahaan pilihan SAI Tiara.

Pendukung SAE Nababan terdesak sehingga harus mendirikan tenda-tenda untuk beribadah, lantaran gedung gereja dikuasai oleh pendukung Dr PWT Simanjuntak dan Dr SM Siahaan.

Di sebuah edisi Majalah “Bona Ni Pinasa” pada 1999 silam ditulis, kala Pdt SAE Nababan akan menghadiri KKR di sebuah daerah di Sumut, pernah ia diadang oleh militer agar tak bisa bertemu dengan jemaatnya.

Namun, SAE Nababan tetap teguh dengan niatnya mnelayani jemaat, dan berhasil lolos dari adangan militer.

Perpecahan gereja terjadi di sebagian besar wilayah.

Perkelahian warga untuk memperebutkan gereja bahkan menimbulkan pertumpahan darah.

Untuk meredakan situasi pemerintah menugaskan Menteri Penertiban Aparatur Negara TB Silalahi mendamaikan kelompok yang berseteru.

Rekonsiliasi ditandatangani kedua ephorus, SAE Nababan dan PWT Simanjuntak.

Rekonsiliasi itu merugikan pendukung SAE Nababan, SSA.

Gagasan perdamaian itu tidak menghasilkan apa-apa dan konflik HKBP tetap tidak berakhir.

Konflik HKBP baru berakhir setelah ditunjuknya Pdt Dr JR Hutauruk sebagai Penjabat Ephorus HKBP untuk misi khusus rekonsiliasi.

Dalam pelaksanaan Sinode Godang pada 18-20 Desember 1998, terpilih Pdt Dr JR Hutauruk sebagai Ephorus, Pdt WTP Simarmata MA menjadi Sekretaris Jenderal, 22 orang jemaat menjadi Pengurus Pusat dan 18 orang Praeses periode 1998-2004.

(hen/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved