Breaking News:

Harga TBS Sawit Sumut Turun Rp 39, Harga CPO Turun Rp 223

Harga TBS kelapa sawit di Sumatra Utara mengalami sedikit penurunan sejak dua pekan terakhir.

KOMPAS/IWAN SETIYAWAN
Foto ilustrasi panen kelapa sawit. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Yufis Nianis Nduru

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Sumatra Utara turun dari Rp 2.534 menjadi Rp2.495 per kilogram pada periode 2-8 Juni 2021. 

"Sebelumnya, harga TBS periode 25 Mei-1 Juni  Rp2.534 per kilogram. Saat ini turun sekitar Rp 39 dan harga TBS kelompok umur 10 sampai 20 tahun senilai Rp2.495 pada minggu ini. Sudah dua minggu belakangan ini harga TBS turun-turun sedikit, " kata Kepala Seksi Promosi dan Pemasaran Dinas Perkebunan Sumatera Utara Dewiana, Kamis (3/5/2021).

Menurutnya, jika dibandingkan dengan harga sawit Sumut pekan pertama Juni 2020, harga TBS menguat sebesar Rp 994 per kilogram atau menguat sekitar 66 persen dari Rp1.501 per kilogram. 

Ia menjelaskan harga TBS periode 2-8 Juni sesuai dari pusat pemasaran Kelapa Sawit PT. Perkebunan Nusantara (PT. KPBN),  GAPKI, dan harga pasar bahwa untuk TBS umur tiga tahun dijual dengan harga Rp 1.937 per kilogram, umur empat tahun Rp 2.119 per kilogram, umur lima tahun Rp 2.240 per kilogram, umur enam tahun Rp 2.303 per kilogram, umur tujuh tahun Rp 2.325 per kilogram, umur delapan tahun Rp 2.386 per kilogram, dan umur sembilan tahun Rp 2.432 per kilogram.

Lalu, harga TBS berumur 10 hingga 20 tahun dijual seharga Rp 2.495 per kilogram,  umur 21 tahun Rp 2.490 per kilogram, umur 22 tahun Rp 2.456 per kilogram, umur 23 tahun Rp 2.430 per kilogram, umur 24 tahun Rp 2.437 per kilogram, dan umur 25 tahun Rp 2.272per kilogram.

"Harga TBS mengalami penurunan karena harga CPO-nya juga sedang turun," ujar Dewiana. 

Selain itu, harga crude palm oil (CPO) pekan ini seharga Rp 10.939 per kilogram dan mengalami penurunan berkisar Rp 223.

Sedangkan harga kernel lokal Rp 7.298 per kilogram dan mengalami penurunan Rp 99 dibandingkan pekan sebelumnya dan harga ini belum termasuk pajak pertambahan nilai (PPN).

Dewiana juga mengungkapkan bahwa saat ini masih banyak petani yang belum bermitra dengan Provinsi Sumatera. 

"Banyak juga petani kita yang belum bermitra dengan kami, mungkin karena mereka mau cepat sedangkan di sini ada proses yang harus dilakukan," tambahnya. 

(cr20/tribun-medan.com)

Penulis: Yufis Nianis Nduru
Editor: Liston Damanik
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved