Breaking News:

Kedai Tok Awang

Akankah Muncul Lagi Bintang Kejutan?

Masing-masing menyebut nama. Ada nama baru, ada nama lama. Namun nama dari Sudung, lah, yang kemudian membuncahkan tawa panjang."Martin Braithwaite!"

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/CHRISTOF STACHE
AFP PHOTO/CHRISTOF STACHE PEMANASAN - Pemain Timnas Denmark Martin Braithwaite melakukan pemanasan sebelum berlatih di training camp Denmark di Innsbruck, Austria, kemarin. Braithwaite yang bermain untuk Barcelona menjadi andalan lini depan Denmark di Euro 2020 yang akan dimulai pada 11 Juni 2021. 

EURO 2020 akan menjadi ajang unjuk gigi para jago tua dan pemain muda usia. Pemain berusia belasan dan awal 20 tahunan yang sudah mendapatkan menit bermain yang banyak dari para pelatih klub. Apakah mereka akan melanjutkan kecemerlangan kala berkostum tim nasional?

Namun tidak cuma mereka. Biasanya, dalam tiap-tiap kejuaraan seperti Euro (dan Piala Dunia), akan muncul pula pemain-pemain kejutan. Pemain yang sama sekali terlewatkan; tidak diperhitungkan, lantaran performa yang sebelumnya biasa-biasa saja.

Kalok bicara pemain kejutan, awak selalu ingat nama Tomas Brolin. Sebelum Piala Dunia 1992, tak pernah awak dengar namanya,” kata Leman Dogol pada Jek Buntal.

Leman, sebagaimana Jek dan Jontra Polta, adalah agen dunia. Resminya dia pemborong. Kelas teri dan tanpa spesifikasi. Dia memborong apa saja, mulai dari pembangunan jalan, tanggul sungai, parit, gedung sekolah, instalasi listrik dan telekomunikasi, pengadaan pipa air, alat-alat kerja kantor dan lain-lain.

Dia juga menjadi perantara untuk jual beli tanah, rumah, kendaraan bekas, sampai sapi dan kambing kurban. Kadang-kadang, Leman masih ikut meramaikan penyaluran beras, minyak goreng, gula, dan pupuk bersubsidi.

Ada pun panggilan 'Dogol' konon berasal dari masa mudanya yang riuh. Delapan sepuluh tahun lalu, Leman dikenal sebagai raja permainan kartu dogol. Main kecil main besar dia selalu menang. Konon sampai sekarang kepiawaian ini masih ada. Namun dia enggan bermain lagi. Persiapan bertobat, friend, bilangnya selalu.

"Ah, kayaknya Pak Leman yang waktu itu kurang update. Brolin sudah main di Italia sejak tahun 1990. Dia main di Parma,” sebut Mak Idam menyela percakapan. Pagi-pagi sekali, sebelum kedai buka dia sudah duduk di sini, menulis puisi.

Leman Dogol mengangguk. "Betul, Mamak. Maksudku, pas di tahun 1992 itu, dia kalah pamor dari pemain-pemain yang lain. Dari Inggris ada Gary Lineker. Dari Perancis, Eric Cantona sedang ganas-ganasnya. Juga Jean-Pierre Papin. Jangan lupa, Belanda masih datang dengan Ruud Gullit dan Marco van Basten. Nah, di tengah bintang-bintang itu Brolin melesat. Dia mencetak tiga gol dan membawa Swedia ke semi final."

"Brolin ini agak-agak mirip Karel Proborsky empat tahun kemudian, ya. Enggak sangka-sangka sekencang itu dia," ucap Jek Buntal menyambung.

Iya, Euro 1996 di Inggris. Digadang dengan slogan 'Football’s Coming Home', tuan rumah ditempatkan sebagai unggulan terdepan. Kala itu skuat Inggris memang bertabur bintang. Alan Shearer, Darren Anderton, Jamie Redknapp, Steve McManaman, Robbie Fowler, dan –tentu saja, the one and only– Sang Badut Sepak Bola, Paul 'Gazza' Gascoigne.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved