Breaking News:

Harga Cabai di Sumut Terus Anjlok, Petani Meringis Biaya Produksi Tak Balik Modal

Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat komoditas Cabai Merah memegang deflasi tertinggi untuk lima daerah IHK per Mei 2021.

Tribun-medan.com/Kartika
Pembeli saat memilih cabai di Pasar MMTC, Minggu (14/3/2021). (Tribun-medan.com/Kartika) 

Harga Cabai di Sumut Terus Anjlok, Petani Meringis Biaya Produksi Tak Balik Modal

TRIBUN-MEDAN.com - Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut mencatat komoditas Cabai Merah memegang deflasi tertinggi untuk lima daerah IHK per Mei 2021.

Adapun untuk deflasi cabai merah di kota Sibolga sebesar 0,4480, Pematang Siantar 0,2274, Kota Medan 0,2284, Padang Sidempuan 0,1727, dan Gunung Sitoli 0,4152.

Beberapa pasar di kota Medan juga turut mengalami anjlok dengan harga Rp 15 ribu - Rp18 ribu per kg.

Terkait hal ini, beberapa petani turut mengeluh lantaran harga untuk tingkat petani mengalami penurunan bahkan merosot hingga Rp5 ribu - Rp10 ribu per kg.

Hasiholan, petani asal Saribu Dolok, Simalungun ini mengungkapkan bahwa harga cabai yang anjlok ini menyebabkan petani di daerah Simalungun merugi.

"Harga anjlok ini jelas pengaruh lah sama petani, kalau bisa dibilang tidak balik modal malah merugi kita. Untuk di sini harga jual petani itu Rp10 ribu- Rp11 ribu," ungkap Hasiholan.

Setiap minggunya, Hasiholan bisa menghasilkan kurang lebih 300kg per Minggu. Tentunya, dengan harga cabai yang masih anjlok ini akan berpengaruh untuk biaya produksi kedepannya.

Dikatakan Hasiholan, anjloknya harga cabai saat ini lantaran pasokan yang begitu melimpah. Namun begitu, ia berharap kedepannya pemerintah dapat membantu untuk menstabilkan harga cabai.

"Ya kita berharap agar harga nanti bisa stabil lagi lah biar produksi juga tetap berjalan lancar," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Kartika Sari
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved