Breaking News:

Masyarakat Adat Natumingka Desak Pemkab Turunkan Tim Verifikasi Identifikasi, Ini Jawab Bupati Toba

Tulang-belulang nenek moyang mereka yang berada di kawasan sengketa terlihat jelas setelah alat berat PT TPL turun ke lapangan.

TRIBUN MEDAN / HO
Jusman Simanjuntak, besan jauh Menteri Luhut Panjaitan, turut menjadi korban kekerasan karyawan PT Toba Pulp Lestari (TPL) saat terjadi bentrok versus masyarakat adat Natumingka di Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba, Sumatera Utara, Selasa (18/5/2021). 

Masyarakat Adat Natumikka Desak Pemkab Toba Turunkan Tim Verifikasi dan Identikasi dalam Pengembalian Tanah Adat

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE – Masyarakat Adat Desa Natumikka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba mendesak Pemkab Toba agar segera menurunkan Tim Idenitifikasi dan Verifikasi guna menyelidiki keberadaan tanah ulayat mereka yang tengah dikelola PT (Toba Pulp Lestari) TPL selama puluhan tahun.

Jusman Simanjuntak, warga Desa Natumingka yang terluka akibat bentrok masyarakat dengan karyawan Toba Pulp Lestari, Selasa (19/5/2021).
Jusman Simanjuntak, warga Desa Natumingka yang terluka akibat bentrok masyarakat dengan karyawan Toba Pulp Lestari, Selasa (19/5/2021). (TRIBUN MEDAN/MAURITS PARDOSI)

Tepat pada pertemuan langsung antara masyarakat adat Natumikka dengan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Toba di Desa Natumikka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba, seorang anggota masyarakat adat Jusman Simanjuntak (75) menyampaikan bahwa pihaknya mendesak penyelidikan tanah ulayat mereka.

“Saya sebagai saksi hidup penanaman eukaliptus di kawasan tanah adat kami. Maka, saya mohon agar pemerintah konsisten dengan apa yang sudah diputuskan untuk menurunkan tim identifikasi dan verifikasi ke kawasan kami ini,” ujar Jusman Simanjuntak (75) saat disambangi tribun-medan.com di Desa Natumikka pada Kamis (3/6/2021).

“Kami masyarakat adat Natumikka juga tidak mau menjual tulang-belulang nenek moyang kami. Dengan demikian, kami juga menduga bahwa serangkaian kegiatan PT TPL yang ada di kawasan tanah adat kami hanyalah permainan belaka,” sambungnya.

Ia mengisahkan semenjak kehadiran PT TPL di desa mereka, secara sosial mereka mengalami perubahan.

Tulang-belulang nenek moyang mereka yang berada di kawasan sengketa terlihat jelas setelah alat berat PT TPL turun ke lapangan.

Setelah diguyur hujan, tulang belulang tersebut tampak memutih.

“Ini menjadi cerita sedih bagi kami. Setelah diratakan pihak PT TPL dengan alat beratnya, tulang belulang muncul setelah diguyur hujan. Maka, sekali lagi kami sampaikan bahwa kami tidak mau memberikan begitu saja peninggalan nenek moyang kami,” tegas yang disebu-sebut sebagai kerabat Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan ini disela-sela perbincangan usai kunjugan Forkopimda.

Terkait hal ini, pihaknya juga telah berkomunikasi dengan pihak kehutanan yakni KPH IV Balige.

Halaman
1234
Penulis: Maurits Pardosi
Editor: Randy P.F Hutagaol
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved