Breaking News:

PETAKA Calo Gadungan Samsat Putri Hijau, Pensiunan PNS Kegubernuran Dipenjara 1 Tahun

Meski sudah uzur, Pensiunan PNS Kantor Gubernur Sumut, Andigan Hasudungan Hutagaol (60) terpaksa mendekam di penjara selama setahun.

DOK Tribun Medan
DOKUMENTASI SAMSAT PUTRI HIJAU - Pintu masuk Kantor Samsat Putri Hijau Kota Medan, Rabu (28/11/2018). (DOK Tribun Medan) 

TRIBUN-MEDAN.com - Meski sudah uzur, Pensiunan PNS Kantor Gubernur Sumut, Andigan Hasudungan Hutagaol (60) terpaksa mendekam di penjara selama setahun.

Pasalnya, Warga Bantan Kecamatan Medan Tembung ini, terbukti melakukan penipuan dengan modus menawarkan orang menjadi pegawai honorer di Samsat Putri Hijau, dengan imbalan sejumlah uang.

Saksi korban Sri Hersti Lusiana Sidabutar saat menjadi saksi  di ruang cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan. (Tribun-medan.com/ Gita Nadia Putri)
Saksi korban Sri Hersti Lusiana Sidabutar saat menjadi saksi di ruang cakra 8 Pengadilan Negeri (PN) Medan. (Tribun-medan.com/ Gita Nadia Putri) (Tribun-medan.com/ Gita Nadia Putri)

Kini, akibat perbuatannya, Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan yang diketuai Syafril Pardaeman Batubara pun menjatuhkan pidana penjara selama 1 tahun padanya.

"Menyatakan Terdakwa Andigan Hasudungan Hutagaol telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana Penipuan, sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut Pasal 378 KUHPidana," kata Hakim sebagaimana dilansir dari Sistem Informasi Penulisan Perkara (SIPP) PN Medan, Jumat (4/6/2021).

Vonis tersebut, beda tipis dengan Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Evi Yanti Panggabean yang meminta supaya Andika dihukum 1 tahun 3 bulan penjara.

Sementara itu, dalam sidang sebelumnya Jaksa menghadirkan saksi korban Sri Hersti Lusiana Sidabutar ke persidangan, ia mengungkapkan karena Andigan merupakan seorang pensiunan PNS di kantor Gubsu, maka ia percaya saja kalau terdakwa bisa meloloskan anaknya jadi honorer.

Dijelaskan Sri, Andigan melancarkan aksinya dengan berpura-pura menjadi calo di Samsat Putri Hijau, dan menawarkan anaknya menjadi pegawai honorer di sana, dengan syarat harus menyediakan sejumlah uang.

"Terdakwa ini kan pensiunan kantor Gubernur. Kebetulan anak saya lagi mencari kerja, lalu dia menawarkan ada lowongan di samsat putri hijau menggantikan honor yang akan keluar," katanya.

Namun, lanjut Hersti setelah ia memenuhi syarat yang diminta yang salah satunya, yakni uang Rp 7 juta, tiba-tiba terdakwa tidak bisa dihubungi lagi dan beberapa kali tidak berada di rumah saat disambangi.

"Saya sudah serahkan uang tunai Rp 7 juta. Lalu setelah ditunggu-tunggu enggak jadi-jadi. Ternyata saat saya telpon hp sudah tak aktif, sampai beberapa kali dicari ke rumah kata orang rumahnya jarang pulang, sampai saya buat laporan," tuturnya.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved