Breaking News:

TERNYATA Penyebab Banjir di Parapat, KPH II Sebut Ada Dua Kubangan Air

KPH II Pematangsiantar siap mengungkap fakta di lapangan bersama stakeholder terkait bila dibutuhkan.

TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI
KASI Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) II Pematangsiantar menunjukkan peta penyebab banjir Parapat, Senin (7/6/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) II Pematangsiantar mengungkap keberadaan dua kubangan di kawasan hutan Kecamatan Girsang Sipangan Bolon yang menjadi sumber banjir yang beberapa kali terjadi di Parapat akhir-akhir ini. Dua kubangan itu ada di sekitar Huta Sualan, Nagori Sibaganding dan Bukit Bangun Dolok Parapat.

Kasi Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat KPH II Pematangsiantar, Tigor Siahaan mengatakan, pihaknya sudah turun di kedua titik tersebut untuk mengungkap kondisi hutan yang sebenarnya.

Tigor menyebut apa yang diduga oknum tertentu terkait kerusakan hutan yang parah di Parapat mesti diluruskan. KPH II Pematangsiantar siap mengungkap fakta di lapangan bersama stakeholder terkait bila dibutuhkan.

"Yang kami lihat semalam, di titik koordinat pertama, Nagori Sibaganding, sebenarnya itu jalur air. Itu kalau ada hujan saja baru ada airnya. Kita sudah ke sana dan melihat di atasnya ada kubangan yang kerap menampung air saat hujan," kata Tigor saat ditemui, Senin (7/6/2021).

Hanya saja kata Tigor, kubangan tersebut takkan mampu menampung debit air yang besar saat hujan deras terjadi sewaktu-waktu. Itulah yang menjadi penyebab air tumpah bila air sudah melewati batas ambang jenuh. "Kalau sudah mencapai titik jenuh, itulah meluap mengakibatkan banjir dan airnya turun ke jalan," ujarnya.

Titik lainnya yang menyumbang banjir di Parapat berasal dari Perbukitan Bangundolok. Di atas perbukitan ini, KPH II Pematangsiantar melihat adanya kubangan penampung air hujan dan beberapa tutupan areal yang belum maksimal.

Tigor mengatakan, KPH II Pematangsiantar hanya memonitor sebagian kecil kawasan hutan. Selebihnya, kawasan hulu (daerah sumber air) merupakan wewenang Balitbang Aek Nauli yang mengelola hutan Kawasan Dengan Tujuan Khusus (KDTK). Di Balitbang Aek Nauli tersebut, KPH II menemukan adanya penebangan hutan. Namun ujar Tigor, arealnya tak terlalu luas dan diduga penebangan terjadi sudah lama.

Baca juga: Banjir Besar di Parapat Ternyata Karena Hal Ini, KPH II Sudah Masuk ke Hutan

"Di situ kondisi tutupan lahannya agak bagus. Sempat ada penebangan di sana, cuma beberapa pohon berdiameter kecil kita lihat tumbang dengan kondisi berlumut. Kita duga terjadi sudah lama," katanya.

"Kalau menurut saya, kerusakan hutan juga memberi dampak. Di Huta Sualan, tidak ada penebangan. Tapi di Bangun Dolok Parapat yang kita lihat, ada penebangan, tapi penebangan lama," pungkasnya.(alj)

Tigor Siahaan mengatakan, KPH II Pematangsiantar siap berdiskusi dengan Balitbang LHK Aek Nauli maupun Pemkab Simalungun untuk mencari solusi agar banjir di Parapat tak terjadi lagi. Apalagi Pemkab dikabarkan berniat untuk membuat tembok penahan dan jalur air di kedua lokasi itu.

Perlu diketahui, KPH II Pematangsiantar mengawasi dua unit area hutan yang ada di Kabupaten Simalungun, di luar hutan konservasi.

Adapun total luas area hutan tersebut adalah unit 6 Simalungun seluas 45 ribu hektare

yang berada di daerah Dolok Silau -  Raya - Raya Kahean - Silau Kahean - Panombeian Panei. Kemudian Unit 12 Simalungun seluas 56 ribu hektare berada di daerah Girsang Sipanganbolon - Hatonduhan - Ujungpadang.(alj/Tribun-Medan.com)

Penulis: Alija Magribi
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved