Breaking News:

Dampak Erupsi Gunung Sinabung, Lahan Pertanian Rusak Terpapar Abu dan Kerikil

Perladangan yang ada di kawasan perladangan yang terlihat cukup parah terdampak berada di Desa Kutarayat, Kecamatan Namanteran.

Tribun-medan.com/ M Nasrul
BEBATUAN kerikil yang menutupi jaman dan atap rumah warga, di sekitar Kecamatan Namanteran, Senin (7/6/2021). (Tribun-medan.com/ M Nasrul) 

TRIBUN-MEDAN.com, NAMANTERAN - Beberapa wilayah di Kecamatan Namanteran terpapar abu vulkanik dan kerikil akibat erupsi Gunung Sinabung, Minggu (6/6/2021). Selain pemukiman warga, dampak ini juga terjadi di sejumlah lahan pertanian milik masyarakat di Kecamatan Namanteran.

Amatan Tribun Medan, di perladangan yang ada di kawasan perladangan yang terlihat cukup parah terdampak berada di Desa Kutarayat, Kecamatan Namanteran. Di sini, tampak tanaman seperti cabai, tomat, dan kentang hampir sebagian besar tertutupi oleh abu vulkanik. Bahkan, di bagian bawahnya tampak masih ada sisa bebatuan berukuran kecil yang mengendap hingga menutupi tanah yang ada di sela-sela tanaman ini.

Seorang petani di kawasan ini Nur Liana bru Ginting, mengungkapkan pascaerupsi yang terjadi kemarin lahan pertaniannya sudah seluruhnya tertutupi oleh abu vulkanik. Saat tiba di ladang dirinya sudah lemas melihat tanaman cabai dan kentang miliknya sudah rusak.

"Keadaannya seperti inilah sekarang, tanaman kita sudah semuanya rusak. Sudah semuanya habis tertutup abu," ujar Nur Liana, Selasa (8/6/2021).

Nur Liana menjelaskan, tanaman cabai miliknya ini masih beberapa persen yang sudah bisa dipanen. Namun, karena kondisinya sudah tertutup abu seperti ini maka hanya kemungkinan kecil bisa dipanen. "Gimana lagi mau dipanen sudah rusak, yang ada enggak mau orang beli," katanya.

Baca juga: Dampak Erupsi, Lahan Pertanian Rusak Terpapar Abu, Petani : Sudah Enggak Ada Yang Mau Beli

Dikatakannya, jika biasanya dari lahan miliknya bisa menghasilkan 300 kilogram cabai, maka kini diperkirakan hanya bisa 20 kilogram saja yang bisa dipanen. Akibatnya, dirinya sudah dapat dipastikan akan mengalami kerugian karena modal yang sudah dikeluarkan tidak bisa dikembalikan lagi. "Aku enggak tau lagi lah, ini sudah bisa dibilang rusak semua," ucapnya.

Nur menambahkan, untuk modal penanaman tanaman ini dirinya sudah berhutang. Untuk itu, dengan kerugian ini tentunya akan membawa dampak ke depan apakah masih bisa menanam modal kembali dan mengembalikan hutang sebelumnya. (cr4/Tribun-Medan.com)

Penulis: Muhammad Nasrul
Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved