Breaking News:

Pedagang Buku Bekas Titi Gantung Rasakan Dampak Aturan Belajar Online, Minat Pembeli Turun Drastis

Sainan, pedagang buku bekas merasakan ada penurunan jumlah pembeli buku bekas. Penurunan ini dirasakan cukup drastis.

Penulis: Mustaqim Indra Jaya
Editor: Tommy Simatupang
TRIBUN MEDAN / MUSTAQIM INDRA JAYA
PEDAGANG - Seorang pedagang di bursa buku bekas, tengah menyusun tumpukan buku yang ia jual di kios miliknya yang berada di lantai II sisi timur Lapangan Merdeka, Senin (7/6/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bagi masyarakat Kota Medan, bila mendengar tempat lokasi penjualan buku bekas, pasti sebagian besar menyebut Titi Gantung.

Titi Gantung merupakan jembatan yang menghubungkan Jalan Jawa dengan Jalan Stasiun Kereta Api Kota Medan. Kedua jalan itu dipisahkan oleh perlintasan rel kereta api.

Bagi masyarakat Kota Medan, kawasan Titi Gantung terkenal sebagai lokasi penjualan buku bekas. Banyak pelajar dan mahasiswa yang datang untuk mencari refrensi.

Sainan, pedagang buku bekas merasakan ada penurunan jumlah pembeli buku bekas. Penurunan ini dirasakan cukup drastis.

Belakangan, kata Sainan, peminat buku bekas maupun masyarakat yang datang terus berkurang. kondisi ini terjadi akibat terus berubahnya kurikulum belajar di sekolah dan juga perkembangan teknologi. Hal itu membuat pedagang tak berani berjudi, menyetok buku bekas dalam jumlah yang banyak.

Baca juga: Sempat Dijodohkan sama Mendiang Jupe, Satpam Tampan Ini Rupanya Sudah Ganti Profesi, Intip Potretnya

Baca juga: Abu Vulkanik Sinabung Sampai ke Binjai, Warga Bersin-Bersin

Ditambah lagi pandemi covid-19 melanda membuat kegiatan belajar mengajar tatap muka di sekolah berhenti. Sehingga, membuat kebutuhan warga dalam membeli buku bahan bacaan atau buku pelajaran juga berkurang.

"Penurunan pembeli akibat adanya gadget sampai 40 persen. Apalagi saat ini pandemi, tidak ada sekolah, turun 75 persen. Jadi, sekarang kami siasati, kami tak bergantung pembelian langsung, tapi online, ditawarkan lewat marketplace. Alhamdulillah membantu penjualan," katanya, Senin (7/6/2021).

Sainan menceritakan pedagang buku bekas hadir di kawasan itu mulai tahun 1965.

"Sudah ada keberadaannya sejak tahun 1965. Tapi saya generasi yang berjualan pada tahun 1985. Hingga akhirnya berjualan di sini (sisi timur Lapangan Merdeka) banyak lika-liku dalam bursa buku bekas ini," ungkap Sainan.

Pada tahun 2003, pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk merelokasi pedagang ke sisi timur Lapangan Merdeka. Pemko Medan pun menyediakan lapak berjualan untuk para pedagang buku bekas yang jumlahnya sudah mencapai ratusan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved