Breaking News:

Produksi Kopi Turun hingga 30 Persen, Petani Berharap Pendampingan dari Pemerintah

saat mengalami masa trek buah, para petani di Karo akan mengantisipasi kekosongan dengan penanaman sela

Penulis: Kartika Sari
Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/HO
Petani kopi, Budiman Sembiring, saat membersihkan lahan di kebun kopi miliknya di daerah Gundaling, Kecamatan Brastagi, Karo beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Produksi kopi di Kabupaten Karo akhir-akhir ini mengalami penurunan. Berdasarkan informasi dari petani sekaligus Ketua Kelompok Tani Komoditas Kopi di Karo, Budiman Sembiring, penurunan produksi ini lantaran curah hujan yang tinggi, yang mengganggu proses pembuahan.

"Kalau untuk saat ini secara umum produksi kita menurun terkait dengan pada saat pembungaan itu curah hujan tinggi pada 7-8 bulan yang lalu. Jadi karena terlalu tinggi curah hujan, persentase terjadinya buah itu akan semakin rendah," ungkap Budiman, Selasa (8/6/2021).

Penurunan produksi atau trek buah ini biasanya terjadi setiap tahun dengan perbandingan proses panen biji kopi yang terjadi pada bulan April-Mei dan Akhir September hingga Awal Desember.

Baca juga: Sajikan Kopi dari Gayo hingga Papua, Chicco Jerikho Buka Gerai Filosofi Kopi

"Hampir setiap tahun itu ada panen trek dan malah ada bulan-bulan tertentu dia akan kosong. Kalau kopi ada yang kurang maksimal malah bisa kosong. Biasa ini terjadi di bulan Juli atau Agustus dan kalau panen biasanya akan sangat sedikit," ujarnya.

Dikatakan Budiman, saat mengalami masa trek buah, para petani di Karo akan mengantisipasi kekosongan dengan penanaman sela dengan tumbuhan lain seperti cabai atau aneka macam sayuran.

Namun tentunya trek buah ini membuat produksi buah terganggu. Budiman menuturkan bahwa pendapatan panen buah biji kopi hingga 30 persen.

"Kalau normalnya bisa dapat hingga 2,5 ton tapi sekarang cuma bisa dapat 1,8 ton pas lagi trek. Sebenarnya, tahun ini dibanding tahun lalu seharusnya buah harusnya masih banyak tapi ini jauh menurun ya mungkin karena pengaruh cuaca tadi," kata Budiman.

Budiman sudah menjadi petani kopi selama bertahun-tahun dengan mengelola tiga kebun yaitu di Desa Kuta Rakyat dengan luas 3.000 m2 yang ditanami 900 batang, Gundaling dengan luas 2.000 m2 yang ditanami 200 batang, dan di daerah Tiga Panah, Desa Talimbaru Kecamatan Barus Jahe dengan luas 4.000 m2 yang ditanami 2.000 pohon kopi.

Untuk tiga daerah ini, Budiman memiliki beberapa jenis biji kopi yang ditanam seperti di daerah Gundaling itu ada jenis Gayo I, di Kuta Rakyat itu ada kopi berjenis Sigarar Utang, dan di Tiga Panah ada kopi berjenis Andung Sari.

Berdasarkan informasi dari Budiman, gabah petani di Desa Kuta Rakyat tepat di bawah kaki Gunung Sinabung per Senin (7/6) kini berada di harga Rp 22 ribu per kg.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved