Breaking News:

UMKM Bisa Dapat Modal dari Masyarakat melalui Skema Securities Crowdfunding

Sumber pendanaan di pasar modal biasanya dengan penerbitan saham baru atau penerbitan obligasi/sukuk.

Penulis: Yufis Nianis Nduru
Editor: Eti Wahyuni
Tribun Medan/Yufis Nduru
Luthfi Zain Fuady, Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK saat menyampaikan materi Webinar Securities Crowdfunding sebagai Alternatif Pendanaan bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) secara virtual, Selasa (8/6/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Skema Securities Crowdfunding (SCF) memberikan kesempatan kepada pelaku Usaha Mikro Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk bisa mendapatkan modal usaha dari masyarakat.

Hal ini disampaikan Luthfi Zain Fuady, Kepala Departemen Pengawasan Pasar Modal 1A OJK pada Webinar Securities Crowdfunding sebagai alternatif pendanaan bagi (UMKM).

"SCF merupakan alternatif pendanaan bagi UMKM mau pun pelaku usaha (star-up untuk mendapatkan dana dengan target market SCF 500 ribu member akan bergabung pada Desember 2021," kata Luthfi, Selasa (8/6/2021).

Ia menuturkan, sumber pendanaan di pasar modal biasanya dengan penerbitan saham baru atau penerbitan obligasi/sukuk. Namun, dengan hadirnya SCF akan mempermudah UMKM dalam mencari pedanaan melalui pasar modal dengan menggunakan aplikasi (platform) penyelenggara, tidak harus berbadan hukum tetapi badan usaha juga dapat menawarkan SCF, dan efek yang ditawarkan tidak harus berbentuk saham tetapi bisa berbentuk obligasi dan sukuk.

Baca juga: Pemerintah Beri Bantuan UMKM Penyandang Disabilitas, Nilainya Capai Rp 7 Juta

Selanjutnya, konsep SCF adalah badan usaha yang membutuhkan modal kerja menawarkan saham/obligasi/sukuk kepada beberapa orang dengan maksud orang tersebut dapat membeli saham/obligasi/sukuk secara patungan dan beramai-ramai.

"SCF dilatarbelakangi penerbitan POJK sebagai respon kebutuhan untuk mencari alternatif sumber pedanaan, arahan presiden RI pada PTIJK, dana arahan Ketua DK OJK dalam peluncuran SCF," ujar Luthfi.

Dalam hal ini, ada beberapa manfaat dari SCF yakni bagi penerbit adalah sebagai alternatif pembiayaan bagi UMKM, membangun start up (pengusaha rintisan) untuk berkembang melalui pembiayaan pasar modal.

Lalu bagi penyelenggara, membantu star up teknologi finansial untuk berkembang di indunstri pasar modal dan bagi pemodal sebagai alternatif investasi bagi pemodal serta pemilik suatu perusahaan dengan modal minim (efek saham)

"Kami dari OJK juga perlu memberi tahu juga risiko SCF yaitu ada proyek tidak berjalan, tidak mendapat deviden, saham tidak likuid, kegagaglan penyelenggara dan risiko penerbit bisa gagal dalam penghimpunan dana," katanya.

Ia juga menyatakan, per tanggal 31 Mei 2021 sudah ada 151 UMKM (jumlah penerbit) lalu ada 33.302 jumlah pemodal sehingga total dana yang dihimpun sebesar Rp 273.470.474.500 dalam menggunakan layanan equity crowdfunding ini.

Selanjutnya, Luthfi menyatakan bagi penerbit (UMKM) SCF ada persyaratan dan kewajiban dalam hal ini yaitu merupakan usaha yang dikendalikan baik langsung mau pun tidak langsung oleh suatu kelompok usaha (konglomerasi), bukan PT Tbk atau anak PT Tbk dan bukan badan usaha dengan kekayaan bersih kurang lebih Rp 10 miliar tidak termasuk tanah dan bangunan.

Setelah itu, kegiatan webinar ini juga dihadirin Hoesen, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Giri Tribroto, Kepala Kantor OJK Regional 8, Bali dan Nusa Tenggara, Mohamad Nurdin Subandi, Kepala Kantor OJK Regional 6, Sulampua, dan James Wiryadi, Co-Founder dan CEO CrowdDana.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved