Breaking News:

Harga Pepaya Terus Turun, Petani Hamparan Perak: Dulu Sempat Rp5.000, Sekarang Rp2.000

Banyak para petani pemula sudah memikirkan keuntungan, namun belum paham cara merawatnya.

Penulis: Kartika Sari
Editor: Liston Damanik
ist
Ilustrasi buah pepaya. 

TRIBUN-MEDAN.com, LUBUKPAKAM - Buah pepaya memiliki potensi besar untuk dapat menjadi komoditas ekspor. 

Memiliki daging berwarna orange, ternyata pepaya dapat diolah menjadi jus pepaya yang kini menjadi salah satu produk andalan lewat Karantina Pertanian Belawan untuk dikirim ke Vietnam.

Bachtiar, petani pepaya asal Hamparan Perak, Deliserdang, ini sudah mengurus ladang buah pepaya sejak tahun 2003.

"Panen itu seminggu dua kali. Jadi tiap tiga hari sekali kita panen. Sekali panen itu bisa 700 buah," ungkap Bachtiar, Rabu (9/6/2021).

Sedangkan jika dihitung dalam rupiah, Bachtiar dapat mengambil untuk bersih Rp14 juta per bulannya.

Namun begitu, harga pepaya saat ini tidak begitu bagus. Dikatakannya, harga buah pepaya setiap tahunnya semakin menurun. 

"Tahun 2018 sempat harganya itu Rp 5.000. Tapi lama kelamaan tahun ini harga di Rp2000-Rp5000 per kg nya," ujarnya.

Merawat pepaya tidaklah semudah yang dibayangkan. Bachtiar bercerita bahwa banyak para petani pemula sudah memikirkan keuntungan, namun belum paham cara merawatnya.

"Banyak yang tidak sabar. Kalau untuk menanam saja gampang. Yang sulit itu bagaimana cara merawatnya. Disitu sering banyak yang gagal," kata Bachtiar.

Untuk perawatan pohon pepaya agar tetap berproduksi dengan baik, Bachtiar menjelaskan bahwa pohon harus berada dalam kondisi tanah yang lembab.

"Kalau musim hujan kita harus siaga agar air ini tersalurkan. Karena pepaya ini butuh air banyak tapi tidak mau terendam. Disini merawat yang paling sulit," pungkasnya.

Tambahnya, Bachtiar bercerita bahwa selain harga dan perawatan yang cukup sulit, ternyata Pohon Pepaya ini rawan akan penyakit hama.

"Sekarang ini banyak hama Pusparium yang penyakit ini memakan dari akar sampai ke pucuk. Jadi memang kalau untuk ekspor ini dari kita cukup sulit karena mesti benar-benar buah yang mulus baru bisa. Kita jadinya jual secara konvensional saja," ucap Bachtiar. (cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved