Breaking News:

1.000 Titik Bahu Jalan di Medan Jadi Tempat Sampah, SAHdaR: Kumuh dan Beraroma Busuk

Harapan agar kota Medan terbebas dari permasalahan sampah tampaknya masih membutuhkan usaha yang lebih besar.

Penulis: Almazmur Siahaan | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN
Pembersihan sampah mengular di Jalan Mandara, Kelurahan Mabar Hilir, Kecamatan Medan Deli. Hingga kini, kawasan tepat di samping jalan tol tersebut tampak dipenuhi sampah, Rabu (24/3/2021). Tumpukan sampah ini sebelumnya dikeluhkan warga karena menimbulkan bau busuk karena keberadaannya yang tepat di tepi jalan.(TRIBUN MEDAN/RECHTIN) 

Kedua, biaya pengangkutan sampah oleh becak pengangkut sampah relatif mahal dan terdapat perbedaan besaran iuran, sehingga masyarakat enggan untuk berlangganan dengan petugas sampah.

Selain itu, becak pengangkut sampah juga tidak beroperasi setiap hari. Sementara sampah rumah tangga yang dihasilkan masyarakat harus segera dibuang karena cepat mengeluarkan bau busuk.

Konferensi pers terkait permasalahan sampah di kota Medan selama 100 hari kerja Bobby Nasution di Sekretariat SAHdaR Jalan Bilal Ujung Gang Arimbi Nomor 1, Kecamatan Medan Timur, Kamis (10/6/2021).
Konferensi pers terkait permasalahan sampah di kota Medan selama 100 hari kerja Bobby Nasution di Sekretariat SAHdaR Jalan Bilal Ujung Gang Arimbi Nomor 1, Kecamatan Medan Timur, Kamis (10/6/2021). (TRIBUN MEDAN/ALMAZMUR SIAHAAN)

Ketiga, berdasarkan anggaran Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kota Medan tahun 2021, terdapat anggaran DKP yang tidak proporsionalitas, yang artinya anggaran tersebut lebih banyak menyasar pada pengelolaan gedung dan kantor DKP.

Berdasarkan data Perwal Nomor 53 tahun 2020 Lampiran II, setengah dari 559 miliar anggaran kebersihan di kota Medan habis untuk biaya listrik, air dan komunikasi. Hanya 15 persen dari total anggaran yang dialokasikan untuk pengelolaan sampah.

Itu pun terbagi dalam beberapa item pengerjaan, seperti promosi dan kampanye kebersihan lingkungan serta pemeliharaan dan penyediaan sarana dan prasarana persampahan.

Diketahui juga, setiap kecamatan di kota Medan menerima anggaran yang tidak sedikit, sehingga sudah selayaknya kecamatan mengelola dan mengatasi permasalahan sampahnya masing-masing.

Keempat, belum maksimalnya kinerja dari petugas kebersihan seperti pasukan melati, bestari dan personil kebersihan kecamatan. 

Catatan SAHdaR menunjukkan bahwa proses rekrutmen dan sistem kerja petugas kebersihan masih belum terkelola dengan baik.

Kelima, minimnya sarana dan prasarana truk pengangkut sampah, dimana saat ini truk pengangkut sampah hanya beroperasi pukul 06.00 WIB.

Itupun berbeda di setiap wilayah. Di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Medan Denai dan Medan Barat, pengangkutan sampah dilakukan pukul 08.00 WIB atau pukul 09.00 WIB.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved