Breaking News:

Risau Hati Siboru Partonun Penyambung Tradisi Tenun Diperhadapkan dengan Eucalpytus

Dulunya, para kaum penenun perempuan Batak atau Partonun, bergantung pada hutan endemik Kawasan Danau Toba untuk bahan baku ulos.

Penulis: Arjuna Bakkara | Editor: Ayu Prasandi
HO
Uli Artha Panggabean saat sedang menrajut benag-benang tenunannya. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN-Kain ulos menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial orang Batak.

Di dalam struktur sosial ulos mejadi penanda identitas orsng tertentu, sehingga jelas perannya dalam sistem Adat Batak yang berdemokrasi tersebut.

Begitu pun di dalam ritus-ritus kebudayaan Batak lainnya.

Dulunya, para kaum penenun perempuan Batak atau Partonun, bergantung pada hutan endemik Kawasan Danau Toba untuk bahan baku ulos.

Sayangnya, kini telah dibabat habis PT TPL yang berganti jadi kayu eucalyptus.

Uli Artha Panggabean, satu dari sekian Partonun di Tanah Batak menggambarkan kerisauannya. Partonun mandar Silindung ini gundah hatinya melihat kondsi hutan saat ini.

Baca juga: SEDANG BERLANGSUNG Live Streaming MotoGP, Cek Hasil MotoGP Jerman di Link Live Saat Ini

"Kenapa aku terkesan sinting banget teriak-teriak #tutupTPL di postinganku?

Itu karena sebagian besar alat tenunku berasal dari pohon endemik yang tidak dibukukan dan didokumentasikan oleh Belanda maupun oleh departemen kehutanan negeri ini juga departemen kebudayaan negeri ini,"begitulah kerisauan yang dia tuangkan di akun Facebooknya, Minggu (20/6/2021).

"Jadi kemanapun kalian mencari, kurasa tidak akan kalian temukan nama-nama pohon yang kusebutkan itu. Akupun tidak hafal kali nama-nama pohon di hutan itu tapi kami saling mengenal dan memahami juga tahu peruntukannya.

Ilmu memahami pohon-pohon yang tidak diajarkan disekolah modern manapun didunia ini,"terangnya lagi.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved