FILM A Thousand Midnights in Kesawan Batal Rilis imbas Covid-19, Ini Statemen Djenni Buteto

Rencananya film ATMiK rilis akhir Juni 2021, namun karena kondisi belum memungkinkan akhirnya rilis filmnya ditunda

Tayang:
HO
J. Hendry Norman dan Djenni Buteto 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Goklas Wisely

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Rilis film A Thousand Midnights in Kesawan (ATMiK) besutan sutradara Djenni Buteto dan Hendry Norman akhirnya ditunda.

"Rencananya film ATMiK rilis akhir Juni 2021, namun karena kondisi belum memungkinkan akhirnya rilis filmnya ditunda," kata Djenni kepada Tribun Medan, Rabu (23/6/2021).

Dia menjelaskan penundaan karena bioskop di Medan belum dibuka. Pasalnya, status pandemi covid 19 yang masih mengkhawatirkan.

Djenni berharap bioskop di Medan segera dibuka seperti di beberapa kota besar lainnya. Namun tentunya dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Diungkapnya, pembuat film sekarang lesu karena bioskop pada tutup. Walhasil para pembuat film lokal utamanya kesulitan bertemu penontonnya kendati sudah ada bioskop online.

Menurutnya, seharusnya bioskop di Medan sudah bisa dibuka seperti di kota lainnya. Tentu dengan pengamanan protokol kesehatan yang ketat.

"Ya para pembuat film karena pandemi Covid-19 pasti mengalami kesulitan finansial. Penjualan produknya tersendat, pertunjukan dan pameran tidak berlangsung secara fisik sehingga mempengaruhi promosi dan berimbas pada penjualan," ujarnya.

Dia mengatakan selama masa pandemi ini sulit menjangkau sponsor dan investor untuk membiayai produksi. Walhasil cara alternatif yang bisa dilakukan dengan urun dana atau Crowdfunding.

"Ya cara Crowdfunding pernah kulakukan saat membuat film panjang pertamanya La Lebay 2015 lalu
Setidaknya ada 20 orang Co-Producer yang urun dana waktu itu," sebutnya.

Dia mengaku sangat bahagia ada mereka yang mau urun dana untuk biaya film La Lebay waktu itu. Sebagai feed back, lanjutnya, ia memberi merchandise dan tiket serta namanya dicantumkan di Credit Title sebagai Co-Producer.

Menurutnya, sangat penting sekali orang Medan tetap memproduksi film dengan tema kedaerahan. Sebab selain dalam sejarah kota ini memiliki segudang produksi film yang beredar di bioskop nasional, penonton film di Medan sangat tinggi jumlahnya.

Sehingga dapat jadi pasar positif bagi film sebagai produk kreatif. Tinggal bagaimana, sambungnya, membuat film yang bagus dan menarik sehingga membangkitkan pamor film Medan di pasar daerahnya sendiri.

"Setidaknya ada 99 profesi yang terlibat dalam sebuah pembuatan film. Jika ini hidup sebagai industri, bisa dibayangkan berapa lapangan kerja yang terbuka lebar,” tutupnya.

(cr8/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved