Breaking News:

Zaman Sekarang Ini Anak Tidak Cukup Mengandalkan IQ, Tapi Juga EQ dan SQ, Ini Alasannya

Pembina Yayasan Budi Utomo Kota Medan Usli Sarsi mengatakan saat ini anak tidak cukup dibekali IQ yang mumpuni saja

Penulis: Kristen edi sidauruk | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/KRISTEN EDI SIDAURUK
Presiden Direktur Mahkota Grup Usli Sarsi (depan tengah) foto bersama dengan guru, staf dan pegawai Yayasan Budi Utomo usai menyampaikan materi, Selasa (22/6/2021).(TRIBUN MEDAN/KRISTEN EDI SIDAURUK) 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN-Pembina Yayasan Budi Utomo Kota Medan Usli Sarsi mengatakan zaman sekarang ini anak tidak tidak cukup mengandalkan IQ (Intelligence Quotient ) saja.

Usli menilai, dalam menjalani kehidupan yang makin berkembang, anak harus mengimbangi IQ dengan Emotinal Quotient (EQ) dan Spritual Quotient (SQ). 

"Bahwa kecerdasan anak itu tidak cukup, pintar saja tidak cukup. Tapi kecerdasan emosi, bagaimana memenejemen emosi itu penting juga mendekatkan diri dengan sang pencipta," kata Usli, di lokasi SMA Budi Utomo, Jalan Jurung Nomor 33, Kecamatan Medan Area, Kota Medan, Selasa (22/6/2021).

Baca juga: Inspektorat Beri Peringatan Ke Dinas Pendidikan Sumut Terkait Pelaksanaan PPDB Yang Kacau

Ia mengatakan, pentingnya EQ dan SQ akan melahirkan empati dan kepedulian siswa kepada lingkungan dan mendekatkan diri siswa kepada Tuhan sehingga mencapai kebahagiaan bersama.

"Mengontrol emosi juga penting, harus memiliki simpati, sikap toleransi, bisa bahagia kalau orang bahagia. Orang menderita dia juga sedih, nilai nilai itu lah yang harus dikembangkan, itulah yang bisa mencapai suatu kebahagiaan kedamaian hati," ujarnya. 

Pembina yayasan sekaligus Presiden Direktur Mahkota Grup tersebut menyampaikan pesan ini di hadapan guru, pegawai, dan staf saat mengelar pelatihan Pendidikan Karakter oleh Yayasan Budi Utomo Kota Medan. 

Baca juga: NGAMUK, Orang Tua Siswa Minta Kadis Pendidikan Sumut Dicopot Saja Lantaran PPDB tak Beres

Usli mengatakan, dia melihat beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan China mengarahkan pendidikannya untuk mengembangkan karakter. 

"Jadi kita telah melihat beberapa negara yang telah sukses menerapkan pendidikan karakter seperti di Finlandia, Jepang mereka menitikberatkan itu adalah karakter," jelasnya. 

Untuk mencapai itu, Ia mengatakan terlebih dahulu diberikan pemahaman kepada guru, staf dan pegawai sebab mereka yang akan menjadi teladan yang akan di contoh siswa.

"Jadi kita harus menjadi contoh terlebih dahulu kemudian kita melakukan apa yang kita ucapkan apa yang kita pikirkan dan perbuatan kita harus sama ke arah yang baik tentunya semua akan mengikuti," jelasnya.(cr6/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved