Breaking News:

Cabai Merah Jadi Penentu Inflasi di Sumut, BI Sarankan OPD Produksi Cabai Olahan

Pada bulan Januari 2021, cabai merah menjadi penyumbang utama deflasi di Sumut sebesar -0,25 persen.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Ayu Prasandi
KARTIKA / Tribun Medan
Pembeli saat memilih cabai di Pasar MMTC, Minggu (14/3/2021). Sejak sepekan terakhir harga cabai masih relatif tinggi sekitar Rp 38 ribu-Rp 42 ribu.   

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Kelompok bahan pangan yang sempat mengalami kelonjakan harga ternyata mempengaruhi inflasi di Sumatera Utara. 

Kepala Perwakilan BI KPw Sumatra Utara Soekowardojo menyebutkan bahwa dari beberapa komoditas pangan yang tergolong volatile food, cabai merah menjadi komoditas utama yang berpengaruh besar terhadap arah inflasi Sumut. 

“Harga Cabai merah sering kali menjadi penentu arah inflasi. Sehingga menjadi faktor penting untuk menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga cabai merah sepanjang waktu,” ungkap Soeko dalam Rapat Koordinasi Provinsi TPID Sumut secara virtual, Senin (28/6/2021). 

Berdasarkan catatan tiap bulan, cabai merah selalu menjadi penyumbang inflasi/deflasi utama. 

Baca juga: Sopir Pajero Terancam 3 Hukuman Berlapis karena Rusak hingga Aniaya Sopir Kontainer

Pada bulan Januari 2021, cabai merah menjadi penyumbang utama deflasi di Sumut sebesar -0,25 persen.

Pada bulan Februari, komoditas ini juga menjadi penyumbang utama deflasi sebesar -0,12 persen. 

Pada Bulan Maret, cabai merah menyumbang inflasi sebesar 0,0017 persen. Selanjutnya, pada bulan April, komoditas ini merupakan penyumbang terbesar kedua terhadap inflasi dengan porsi 0,03 persen. Pada bulan Mei, komoditas ini kembali menjadi penyumbang utama deflasi sebesar -0,24 persen. 

Soeko menjelaskan bahwa pada dasarnya porsi komponen volatile food terhadap inflasi Sumut kurang dari 20 persen.

Namun, perubahan yang terlalu reaktif inilah yang berpengaruh besar terhadap pola inflasi

Adapun, petani cabai merupakan orang yang paling dirugikan akibat gejolak harga tersebut. Bila musim panen, keuntungan petani mengecil karena harga cabai merosot.

Sementara, produksi rendah menyebabkan harga cabai merah naik, namun petani tidak mendapat keuntungan dari kenaikan harga tersebut. 

Baca juga: SOSOK Satika Simamora, Istri Bupati Tapanuli Utara, Buat Gerakkan untuk 11 Ribu Pelaku UMKM

Untuk mengatasi hal ini, BI KPw Sumut menyarankan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) untuk bekerja sama memproduksi cabai olahan.

Dengan pengolahan tersebut, cabai merah dapat bertahan lama, stok tersedia, dan harga dapat dikendalikan.

“Kalau kita tidak terbiasa memproduksi cabai olahan seperti cabai bubuk, akan selamanya cabai merah itu jadi masalah,” pungkas Soeko.

(cr13/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved