Breaking News:

News Video

Pemilik Toko Seragam Sekolah Keluhkan BTM Ditunda, Pemilik Toko: Orang Makin Ragu Beli Seragam

Pemilik toko seragam sekolah mengeluhkan pemberlakuan Belajar Tatap Muka (BTM) yang ditunda hingga bulan Agustus mendatang.

Penulis: Almazmur Siahaan | Editor: M.Andimaz Kahfi

Pemilik Toko Seragam Sekolah Keluhkan BTM Ditunda, Pemilik Toko: Orang Makin Ragu Beli Seragam

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Pemilik toko seragam sekolah di Jalan DI Panjaitan, Kelurahan Babura, Kecamatan Medan Baru, mengeluhkan pemberlakuan Belajar Tatap Muka (BTM) yang ditunda hingga bulan Agustus mendatang.

Pemilik Toko Linda, Linda mengatakan, ditundanya jadwal belajar tatap muka akan membuat siswa atau pun orangtua siswa semakin ragu membeli seragam sekolah.

"Kami satu tahun lebih tidak ada laku baju sekolah. Baru beberapa hari ini ada yang beli baju, itu pun belinya satu-satu karena takut belum bisa sekolah tatap muka. Apalagi ini katanya ditunda jadi bulan 8, orang pun jadi makin ragulah mau beli. Paling hanya pesantren saja yang berani beli," kata Linda, Rabu (30/6/2021).

Linda mengatakan, selama pandemi omset penjualan seragam sekolah di toko miliknya menurun 90 persen.

"Selama pandemi menurun sekali 90 persen, sama sekali enggak ada orang. Bukan hanya seragam, orang juga belum berani beli sepatu. Orang belum 100 persen percaya sekolah akan buka," bebernya.

Ia takut jika sekolah tatap muka ditunda terus, seragam sekolah di tokonya akan menguning dan tidak laku.

"Kalau seragamnya terlalu lama di sini lama-lama nanti jadi kuning. Kalau sudah kuning pasti kurang laku, terpaksa kita kasih diskon. Tapi karena katanya sekolah sudah mau buka, kita tetap jahit yang baru," katanya.

Selama pandemi Covid-19, Linda yang sebelumnya tidak pernah menerima pesanan jahitan dari rumah sakit, terpaksa harus beralih menjahit Alat Pelindung Diri (APD) dan masker pesanan dari rumah sakit.

"Jadi untuk antisipasinya kita terima jahitan saja dari rumah sakit seperti APD, masker juga, kalau tidak habislah kami. Sebelum pandemi kami tidak ada terima jahitan dari rumah sakit. Tapi sejak baju sekolah enggak laku, kami juga tidak berani jahit dan mulai terima pesanan jahit dari rumah sakit," jelas Linda.

Ia menambahkan, sebelum pandemi Covid-19 kondisi tokonya sangat ramai, khususnya menjelang hari masuk sekolah. Bahkan, saking ramainya orang pun sulit masuk ke dalam toko.

Linda pun berharap belajar tatap muka di sekolah bisa segera dimulai, agar penjualannya bisa kembali meningkat.

"Kita doakan saja mudah-mudahan bisa secepatnya sekolah, supaya nasib kita pun tidak terancam. Soalnya kalau seragam enggak laku dan dibiarkan lama, dia jadi kuning," harapnya.

(cr17/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved