Breaking News:

Wawancara Eksklusif

Suka Duka Fadjroel sebagai Penyambung Lidah Presiden, Saya Bicara Setelah Jokowi Bicara

Di manapun tugas negara yang diperintahkan Preiden Joko Widodo, saya akan menjalankan sebaik-baiknya

Editor: Perdata O Ginting S
Seno Tri Sulistiyono/Tribunnews.com
Juru Bicara Presiden, Fadjroel Rachman 

Tapi, wartawan memang kadang mengejar saya, seolah-olah saya satu-satunya yang bisa bicara.

Makanya saya kerap mengarahkan kalau soal hukum kepada Mba Dini, ekonomi kepada Mas Arief, sosial ke Mba Angkie. Karena saya diminta menjaga lima hal, yang paling berat terkait dengan demokrasi.

Misalnya, pertanyaan mengenai apakah presiden itu bisa dipilih dua kali atau tiga kali. Itu isu yang terus berkembang bertahun-tahun.

Selama Covid-19 Job Bermusik Once Sepi, Kini Buka Usaha Kecil-kecilan, Begini Siasatnya

Saya kemarin masih menjawab pertanyaan soal ini. Apakah presiden dipilih langsung atau MPR. Ya, Presiden bilang sesuai konstitusi tegak lurus.

Yang ketiga terkait pilkada langsung. Presiden bilang pilkada harus langsung, karena saya anak reformasi saat terpilih menjadi wali kota, gubernur, dan presiden.

Kalau tidak ada reformasi tidak mungkin anak pinggir kali, anak tukang jualan bambu, jualan furniture, jadi presiden.

Biasanya yang jadi presiden kan semua orang-orang yang kelas atas. Ini rumah saja nyewa, kadang kebanjiran, bisa jadi presiden.Yang paling kami jaga adalah wilayah demokrasi, hak, toleransi, kemudian hak asasi manusia, dan kehadiran negara kepada masyarakat.

Isu seputar kepulangan Habib Rizieq Shihab, soal isu Islam apakah itu juga domain Anda?

Itu domainnya Pak Kemenkopolhukam, Pak Mahfud MD. Tapi, saya selalu berhubungan dengan Bbeliau dan staf-stafnya. Jadi, misalnya saya bilang Pak Mahfud izin, ini Bapak yang menanggapi, karena Bapak yang punya otoritas dan otoritatif menjawab ini.

Jadi, tidak mungkin saya menyampaikan sesuatu, yang Presiden tidak sampaikan. Itu otoritasnya Pak Mahfud, bisa juga Pak Menkumham, atau wakil Beliau.

Ekosistem komunikasi periode ini sebenarnya sangat tertata bagus. Dibagi secara fungsional, tapi kadang-kadang saya harus minta maaf kepada teman-teman wartawan.

Saya bisa paham lah, teman-teman senang kalau bertanya kepada saya.

Baca juga: Undangan Sudah Tersebar, Boy William Putuskan Tunda Pernikahan, Dresscode Pesta Sempat Heboh

Baca juga: TERUNGKAP, 4 Alasan Marc Klok Pilih Gabung Persib Bandung, Dibeberkan Orang Dalam

Karena kutipannya Istana, ya. Istana titik dua. Jokowi titik dua. Padahal sebenarnya kalau yang diinginkan kontennya, bicaranya dengan menko, dan menteri, lembaga.

Itu lebih keren sebenarnya. Cuma, mungkin kalau di-googling tidak ke luar. Yang ke luar tuh Istana, Fadjroel, dan Jokowi.

Jadi, saya kadang minta maaf, tidak mau menjawab. Saya bilang tolong ditanya kepada Pak Menteri ini, karena pertanyaan ini kalau dijawab menteri lebih bagus.

Misal soal Covid, vaksinasi, atau apa saja vaksinnya. Itu kan bagus banget kalau dijawab Pak Budi Gunadi Sadikin, atau Pak Garnip.

Baca juga: Pendaftaran CPNS Deliserdang Dibuka Besok, Tersedia 2.806 Kouta PPPK Guru dan 69 CPNS

Baca juga: KONFLIK IAKN Tarutung antara Yusuf Henuk vs Bupati Taput jadi UKN Berujung Pidana UU ITE

Tapi, teman-teman baliknya nanya kepada saya. Presiden itu sudah menyampaikan dalam pidatonya bahwa, cuma ada PPKM skala mikro, vaksinasi 1,8 juta misalnya.

Namun, teman-teman suka nanya lagi kepada saya detailnya. Saya bilang itu bagus banget kalau dijawab menteri.

Tapi mereka tetap ngejar saya. Tapi, lama-lama akhirnya terbangun juga ekosistemnya. Teman-teman wartawan bisa memahami ini bagus dijawab oleh siapa.

Isu pertahanan sudah ada jubirnya. Tapi memang saya harus tiap hari menceritakan model komunikasi yang dibangun sekarang seperti ini. Beda dengan periode pertama. (tribun network/denis destryawan)
 



Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved