Targetkan Tembus Pasar Eropa, Balai Karantina Bina 100 Desa di Sumut

Terkait hal ini, ternyata sejak tahun 2020 lalu, Balai Karantina Pertanian Belawan telah membentuk 100 desa binaan ekspor di 10 kabupaten.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
Kartika / Tribun Medan
Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Andi PM Yusmanto. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pertumbuhan ekspor di Sumatera Utara saat ini begitu pesat, sejalan dengan gerakan 'Merdeka Ekspor' yang akan segera diterapkan oleh Presiden Jokowi pada Agustus Mendatang.

Terkait hal ini, ternyata sejak tahun 2020 lalu, Balai Karantina Pertanian Belawan telah membentuk 100 desa binaan ekspor di 10 kabupaten.

Adapun 10 kabupaten ini diantaranya Deliserdang, Sergai, Karo, Simalungun, Toba, dan lainnya.

"Hampir semua UPT Pertanian diminta untuk melakukan pembinaan di desa-desa. Kebetulan kita ada ajukan 100 desa untuk dilakukan pembinaan jika ada komoditas unggulan di situ," ungkap Kepala Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Andi PM Yusmanto, Rabu (7/7).

Dikatakan Andi, 100 desa yang diusulkan ini akan dibina untuk mulai bergerak dalam bidang ekspor.

Baca juga: Nilai Ekspor Sumut Tembus Rp 13 Triliun, Kelapa Sawit Paling Diandalkan

"Dari sini kita lakukan pembinaan seperti produk apa yang dibutuhkan negara tujuan dan bagaimana persyaratan yang mereka butuhkan. Kita bantu agar kualitasnya lebih baik agar komoditas ini dapat diterima di negara yang dituju," ujarnya.

"Yang paling penting kita akan lakukan pertemuan dengan eksportir dan calon eksportir agar ada komunikasi. Kemudian juga kita jaga kepercayaan dengan buyer juga," lanjutnya.

Sementara itu, Andi menyebutkan bahwa ternyata di Sumut memiliki banyak komoditas yang punya potensi ekspor diantaranya sekam kopi.

"Sekam kopi ini kita akan coba. Produk ini dianggap baru karena fungsinya sebagai bahan campuran pakan ternak, jadi sangat dinikmati oleh negara tujuan kita," kata Andi.

Berdasarkan catatan dari Balai Karantina Pertanian Belawan, untuk Periode Januari-Juni 2021, Sumut berhasil meraup nilai ekonomis sebesar Rp 13 triliun, meningkat 43,3 persen dibanding tahun lalu di periode yang sama sebesar Rp 9 triliun.

Melihat potensi yang menjanjikan ini, Andi menargetkan ke depan akan menembus pangsa Eropa.

"Kita akan mencoba tembus ke Eropa. Temen-temen eksportir sendiri memang sudah semangat namun karena pandemi ini, komunikasi dengan buyer masih ada kendala. Kedepan kita akan fasilitasi mereka," pungkasnya.

Dalam pemberitaan sebelumnya, disampaikannya bahwa per Juni 2021 atau selama semester pertama, nilai ekspor sudah mencapai Rp 13 triliun dalam semester I, naik signifikan dibanding tahun lalu yang hanya sebesar Rp 9 triliun untuk periode yang sama.

"Untuk ekspor kita mengalami peningkatan signifikan sebesar 43,3 persen dibanding tahun lalu, jadi meningkat di pandemi Covid-19 ini sebesar Rp13 Triliun sampai Juni ini," ungkap Andi.

Adapun komoditas paling besar hingga saat ini masih dipegang oleh kelapa sawit dan turunannya. "Di Sumatera ini paling tinggi perkebunan. Ini yang menjadi andalan kita di sini. Selain itu ada kopi biji, karet, pinang, bahkan kulit kayu manis juga ada," tutur Andi.

Dikatakan Andi, semasa pandemi ini ada beberapa kendala yaitu minimnya kontainer ekspor yang masuk lantaran beberapa negara masih terjadi lockdown sehingga menutup pangsa ekspor.

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved