Breaking News:

Khusus Kartu Berteknologi Chip, Tarik Tunai di ATM Bisa Sampai Rp 20 Juta

Hal ini dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat.

Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN/DIAN NUR UTAMA SARAGIH
NASABAH Bank Sumut saat melakukan tarik tunai di ATM Bank Sumut di sekitar Simpang Jalan Aksara, Keluarahan Bantan Timur, Kecamatan Medan Tembung, Kota Medan, Minggu (23/5/2021) siang. (TRIBUN MEDAN/DIAN NUR UTAMA SARAGIH) 

TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Bank Indonesia(BI) melakukan penyesuaian batas maksimal nilai nominal dana untuk penarikan tunai melalui mesin ATM yang menggunakan teknologi chip. Penyesuaian yang sifatnya sementara ini berlaku mulai 12 Juli 2021 sampai dengan 30 September 2021.

“Hal ini dilakukan untuk mendukung kebijakan pemerintah terkait pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat,” kata Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono dalam keterangannya, Jumat (9/7/2021).

Erwin pun menjelaskan perihal detail penyesuaian batas penarikan tunai tersebut.

Dikatakannya, Bank Indonesia(BI) menaikkan batas maksimal nilai nominal dana untuk penarikan tunai melalui mesin ATM dari Rp 15 juta menjadi Rp 20 juta tiap rekening dalam 1 Hari untuk kartu ATM yang menggunakan teknologi chip. Kenaikan batas maksimal nilai nominal dana untuk penarikan tunai menggunakan kartu ATM tersebut hanya berlaku untuk mesin ATM Dengan Teknologi Chip.

“Dalam hal ini Bank Indonesia telah mengimbau bank untuk mempublikasikan kepada masyarakat daftar lokasi ATM yang dapat melakukan penarikan tunai dengan limit baru,” ucap Erwin.

Dirinya melanjutkan, Bank Indonesia terus melakukan koordinasi dan sinergi dengan pemerintah dan otoritas terkait termasuk asosiasi industri untuk menekan penyebaran Covid-19. Diharapkan, masyarakat untuk menggunakan pembayaran nontunai atau QR Code Indonesian Standard (QRIS) dalam melakukan transaksi.

Minimnya kontak langsung dengan menggunakan QRIS, diharapkan dapat mengendalikan rantai penularan Covid-19. “BI mengajak masyarakat untuk senantiasa menerapkan protokol kesehatan dengan memberlakukan 6M. Serta menggunakan pembayaran nontunai/QR Code Indonesian Standard (QRIS),” ujarnya.

Baca juga: Nasabah Jangan Pakai Gerai ATM di Bank Ini Sementara Waktu, Belasan Pegawainya Positif Covid-19

Sementara itu berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Mei 2021 menyebutkan, kinerja penjualan eceran secara tahunan diperkirakan melambat pada Juni 2021. Erwin Haryono mengatakan, hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Riil (IPR) Juni 2021 sebesar 202,3 atau secara tahunan diperkirakan tumbuh sebesar 4,5 persen (year on year/yoy), tidak setinggi pertumbuhan sebesar 14,7 persen (yoy) pada Mei 2021.

“Mayoritas kelompok tercatat mengalami perlambatan, terutama kelompok suku cadang dan aksesoris, kelompok makanan, minuman dan tembakau. Sementara penjualan kelompok peralatan informasi dan komunikasi serta kelompok barang budaya dan rekreasi mengalami kontraksi,” katanya.

Erwin melanjutkan, secara bulanan, penjualan eceran Juni 2021 diperkirakan terkontraksi sebesar -11,1 persen (month to month/mtm).

“Responden menyatakan penurunan tersebut sejalan dengan kembali normalnya konsumsi masyarakat pasca hari besar keagamaan nasional (HBKN) Idul Fitri khususnya pada Subkelompok Sandang dan Kelompok Makanan, Minuman dan Tembakau,” jelasnya.

Sedangkan pada bulan Mei 2021, responden mengindikasikan kinerja penjualan eceran baik secara bulanan dan tahunan mencatat pertumbuhan positif. Indeks Penjualan Riil (IPR) Mei 2021 tumbuh 3,2 persen (mtm) dan 14,7 persen (yoy), meskipun tidak setinggi 17,3 persen (mtm) dan 15,6 persen (yoy) pada April 2021. (Tribun Network/ism/wly)

Responden menyampaikan perlambatan kinerja penjualan eceran terutama disebabkan oleh permintaan yang tidak setinggi pada Ramadan, serta pembatasan mobilitas saat HBKN Idul Fitri sejalan dengan pengendalian Covid-19.

Perlambatan terutama terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau dan subkelompok sandang. Dari sisi harga, responden memperkirakan tekanan inflasi pada 3 dan 6 bulan mendatang (Agustus dan November) diperkirakan melambat. Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) 3 bulan yang akan datang (Agustus) sebesar 124,4, menurun dari bulan sebelumnya, didukung oleh distribusi barang semakin lancar.

Sementara itu, IEH 6 bulan yang akan datang (November) sebesar 119,9, lebih rendah dari capaian pada bulan sebelumnya sebesar 134,0 didukung oleh distribusi barang yang lancar dan pasokan yang cukup.(Tribun Network/ism/wly)

Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved