Breaking News:

Sakdiah Makin Berdaya Setelah Tahu Aksara

Warga Deliserdang yang awalnya buta huruf, kini makin berdaya setelah belajar dan mengenal aksara.

Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN/TRULI OKTO PURBA
SUASANA belajar warga program keaksaraan di PKBM Cendana di Desa Desa Perkebunan Ramunia I, kecamatan Pantai Labu, Deliserdang. Foto diambil sebelum pandemi Covid-19. 

TRIBUN-MEDAN.com, LUBUKPAKAMPendidikan keaksaraan untuk mewujudkan Indonesia yang bebas buta aksara terus dilakukan pemerintah. Tak bekerja sendirian, pemerintah berkolaborasi dengan berbagai pihak seperti Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam melaksanakan pendidikan keaksaraan. PKBM Cendana adalah salah satu PKBM yang konsisten melaksanakan pendidikan keaksaraan dengan sasaran warga di beberapa kawasan pesisir yang ada di Kecamatan Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang.

***

Sakdiah berusaha keras menulis beberapa huruf di atas kertas yang disodorkan oleh tribun-medan.com. Dengan gerakan tangan yang tidak terlalu cepat, perempuan 60 tahun itu berusaha menuliskan kata “CENDANA”. Saat diminta untuk menuliskan “SAKDIAH”, dia juga melakukannya dengan kecepatan tangan yang sama saat menulis kata “CENDANA”. Sakdiah menghabiskan waktu sekitar satu menit untuk menuliskan dua kata tersebut.

Diusianya sekarang, Sakdiah memang baru bisa menulis aksara di tengah kesibukannya menjual kopi di depan rumah dan mengasuh cucunya. Dia berhenti sekolah saat masih duduk di kelas II Sekolah Dasar (SD). Warga Desa Perkebunan Ramunia I, kecamatan Pantai Labu, Deliserdang ini pun menikah di usia muda, 15 tahun. Dari pernikahannya, Sakdiah dikaruniai enam anak dan 12 cucu. Sakdiah pun menjalani hidup dengan kondisi buta huruf sebelum akhirnya memutuskan belajar aksara di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Cendana, di Kecamatan Pantai Labu.

“Saya sudah belajar di sini sejak enam tahun lalu. Syukur alhamdulillah, sekarang saya sudah  tahu aksaran, sudah bisa menulis dan membaca. Ya, masih lambat-lambatlah. Saya senang, meskipun umur sudah tua,” kata Sakdiah, beberapa waktu lalu.

Pendidikan keaksaraan yang diikuti Sakdiah, tak hanya membuatnya bisa baca tulis saja. Dirinya mengaku, setelah tahu aksara, kualitas hidupnya makin berdaya dan lebih baik. Perubahan hidup yang lebih baik dirasakannya saat menjalankan usaha warung kopi di depan rumahnya yang hanya  berjarak seratusan meter dari gedung belajar PKBM Cendana.

Ketika membuka usaha warung kopi 12 tahun lalu, Sakdiah mengaku tidak dapat  menghitung berapa pengeluaran dan pendapatan usahanya secara tertulis. Dirinya hanya dapat bertransaksi secara langsung misalnya ketika pembeli membayar biaya minum kopi dan ada sisa yang harus dikembalikan.

“Tapi kalau untuk menulis dan menghitung secara rinci, saya tidak bisa. Tapi itu dulu. Setelah ikut belajar di PKBM dan tahu aksara, saya sudah bisa menulis dan menghitung keuntungan usaha warung kopi,” katanya.

Hal senada juga dikatakan Ijah (63 tahun), warga belajar PKBM Cendana lainnya. Nenek enam cucu yang tinggal di Blok 25 Desa Perkebunan Ramunia ini mengatakan, sudah ikut program keaksaraan dasar selama hampir tiga tahun. Ijah mengaku sudah bisa menulis huruf dan membaca rangkaian kata. Saat ini, dirinya sudah berada di kelas keaksaraan lanjutan setelah dinyatakan lulus dari kelas keaksaraan dasar.

“Saya senang sekali bisa membaca, walaupun masih lambat. Maklumlah, usia saya juga sudah tua ya, jadi banyak kekurangan. Tapi saya tetap semangat untuk ikut belajar walaupun di awal-awal masih malu,” katanya.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved