Breaking News:

Sakdiah Makin Berdaya Setelah Tahu Aksara

Warga Deliserdang yang awalnya buta huruf, kini makin berdaya setelah belajar dan mengenal aksara.

Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN/TRULI OKTO PURBA
SUASANA belajar warga program keaksaraan di PKBM Cendana di Desa Desa Perkebunan Ramunia I, kecamatan Pantai Labu, Deliserdang. Foto diambil sebelum pandemi Covid-19. 

SEKRETARIS Dinas Pendidikan Kabupaten Deliserdang, Miska Gewa Sari mengatakan, komitmen penuntasan buta aksara di kabupaten Deliserdang telah berbuah penghargaan dari pemerintah pusat. Tahun 2018, Deliserdang menerima Anugerah Aksara Utama yang merupakan kategori tertinggi dari Anugerah Aksara yang diberikan oleh Mendikbud kepada kepala daerah yang dinilai berhasil menuntaskan kasus buta aksara. Sebelum sampai ke Anugerah Aksara Utama, setiap daerah harus melewati Anugerah Aksara Pratama dan Anugerah Aksara Madya.

Tahun 2017 Deliserdang mendapat Anugerah Aksara Madya. Artinya dengan indikator indikator dalam pemberian anugerah, Deliserdang telah melakukan upaya penuntasan buta aksara sampai di bawah 1  persen yang berarti telah berada pada komitmen paling tinggi dalam penuntasan buta aksara.

Berdasarkan sinkronisasi data keaksaraan pemerintah pusat dan kabupaten Deliserdang,  angka buta aksara di kabupaten Deliserdang sebesar 0,18 persen atau sekitar 900 warga. Miska menjelaskan, angka buta aksara di Deliserdang secara umum didominasi oleh warga usia lanjut, yaitu di atas usia 50-an. Jumlah persentasi 0,18 persen tersebut menyebar di kecamatan-kecamatan di Deli Sedang. Tidak ada daerah (kecamatan) yang terlalu mendominasi karena jumlahnya cukup kecil.

Terkait program penuntasan angka buta aksara, kata Miska, Pemerintah Kabupaten Deliserdang telah melaksanakan beberapa langkah. Diantaranya melakukan pendataan ulang warga buta aksara. Hal ini dilakukan untuk memastikan kemungkinan ada penambahan angka buta aksara yang disebabkan karena terjadinya mutasi penduduk, gangguan akses layanan pendidikan, atau lupa aksara. Lupa aksara adalah sebuah keadaan menurunnya kemampuan keberaksaraan seseorang akibat menurunnya aktifitas beraksara (membaca dan menulis). Lupa aksara dapat terjadi jika interaksi baca tulis mengalami penurunan intensitasnya.

Lupa aksara biasanya terjadi pada orang yang memiliki kemampuan beraksara (baca tulis) yang baru dimulai pada usia lanjut. Misalnya seseorang yang buta aksara hingga usia 40 atau 50 tahun. Lalu mengikuti pendidikan keaksaraan dasar dan mampu membaca. Namun setelah dia mampu membaca tetapi tidak ada kegiatan yang membuat dia selalu membaca, maka orang seperti ini rentan mengalami "lupa aksara".

“Agar hal itu tidak terjadi, maka Dinas Pendidikan bersama SKB dan PKBM akan menyelenggarakan program keaksaraan fungsional, keaksaraan usaha mandiri dan multi keaksaraan. Bentuk kegiatannya dapat berupa belajar membuat aneka kue, menjahit, tata rias, budidaya hewan, pertanian dan lain-lain. Saat mengikuti pelatihan-pelatihan, mereka akan melakukan aktifitas membaca dengan membaca teks berupa resep masakan, teknik membuat makanan, teknik menjahit dan sebagainya. Sembari mereka mendapatkan pelajaran keterampilannya, mereka juga terus melakukan aktivitas membaca dengan materi bacaan yang kontekstual,” terang Miska.

Langkah selanjutnyaa, kata Miska memberikan pendidikan keaksaraan dasar,  menyelenggarakan program keaksaraan fungsional seperti keaksaraan usaha mandiri dan multi keaksaraan.

“Untuk menuntaskan buta aksara, dalam pelaksanaan pendidikan keaksaraan dasar, Dinas Pendidikan juga bekerjasama dengan pengelola Pendidikan Non Formal (PNF) yang diselenggarakan oleh masyarakat yaitu PKBM. Pihak lain yang turut berkontribusi yaitu PT. Angkasa Pura II berupa bantuan mobil perpustakaan keliling yang melayani PAUD dan PNF,” ujarnya.

Miska menambahkan, berdasarkan indikator yang ditetapkan oleh Mendikbud, kabupaten Deliserdang sudah berada pada capaian tertinggi atau tuntas, karena angka buta aksaranya di bawah 0,5 persen. “Namun demikian, untuk tetap menjamin tidak terjadinya kemunculan angka buta aksara baru, maka Dinas Pendidikan terus mengembangkan program-program keaksaraan lanjutan atau keaksaraan fungsional,” pungkasnya.(top/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved