Breaking News:

Petani Andaliman Sumut Bangkit dari Keterpurukan Panen Tahun 2020, Berharap Bantuan Ekspor

Saat akan panen raya pada tahun 2020, harapan besar para petani harus pupus saat pandemi melanda. 

Penulis: Kartika Sari | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN/HO
Petani andaliman, Marandus Sirait bersama rekannya saat panen di kebun beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Andaliman saat ini semakin mendunia. Status ini dibuktikan dengan Andaliman menjadi komoditas baru di Balai Pertanian Karantina dengan pengiriman ke Jerman pada semester I tahun 2021 ini.

Marandus Sirait, Ketua Kelompok Petani Andaliman Kecamatan Lumbanjulu ini juga turut menyambut baik hal tersebut.

Bersama seratus petani lainnya, Sirait sudah mulai melakukan pembibitan sejak tahun 2017.

"Saya membudidayakan andaliman ini karena peluangnya selangit karena rempah-rempah ini dibutuhkan dunia terutama Eropa. Namun disamping itu kendalanya selaut juga," ungkap Sirait, Jumat (16/7/2021).

"Tahun 2017, kita buat kelompok tani dan cari para donatur untuk membantu bibit dan penanaman. Banyak tergiur dengan tanaman ini. Biasanya kan tumbuh liar begitu saja, belum ada pembibitan. Nah sebelumnya saya juga sudah melakukan penelitian bahwa Andaliman ini bisa dilakukan cangkok ataupun stek pucuk," lanjutnya.

Saat akan panen raya pada tahun 2020, harapan besar para petani harus pupus saat pandemi melanda. 

Padahal, pada tahun 2019 lalu, para petani sudah mulai memperkenalkan andaliman seperti mengikuti pameran hingga ke luar negeri hingga membuat ajang duta andaliman agar semakin dikenal masyarakat.

"Tahun 2020, saat mulain Covid-19, anjloknya andaliman kita pas panen raya. Tadinya petani sudah bersemangat begitu hebat karena andaliman terbuka peluangnya untuk Nusantara dan dunia. Saat Covid-19 itu semua sirna karena tak bisa ada pasar ataupun pengiriman, sehingga banyak kebun yang kita bina itu mati dan tak terurus lagi karena tak diambil buahnya. Kalau tak diambil buahnya ini mengakibatkan kematian tanaman," ujarnya.

Saat itu, Sirait juga sempat diserbu oleh para petani yang mempertanyakan mengenai tanaman andaliman yang sudah ditanam, padahal saat itu para petani sudah rela untuk menebang tanaman kopi untuk menggantinya dengan tanaman andaliman.

"Kita tak bisa berbuat apa-apa. Kita mulai lagi membuat pembibitan dan kita bantu lagi para petani karena saat ini sudah bisa kita mulai lagi selangkah demi selangkah namun belum seperti dulu," kata Sirait.

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved