Hasil Penelitian Terbaru, Ada Vaksin yang Digunakan Indonesia Sangat Ampuh dari Virus Corona
Jadi Idaman Banyak Orang, 50 Juta Vaksin Covid-19 Paling Ampuh di Dunia Ini Bakal Masuk Ke Indonesia, Ini Dia Kandidat Penerimanya.
Terlepas dari meningkatnya kasus covid-19 di Tanah Air belakangan ini, ternyata dari sekian vaksin yang didatangkan oleh Indonesia tersebut, tercatat ada salah satu vaksin yang dikabarkan ampuh memberi perlindungan seumur hidup.
TRIBUN-MEDAN.COM - Selama ini Indonesia dipusingkan dengan masalah lonjakan kasus Covid-19 yang tak kunjung mereda.
Bahkan kasus Covid-19 masih melonjak meski telah melakukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Jawa-Bali.
Tak cukup hanya 17 hari mulai 3-20 Juli, pemerintah bahkan resmi memperpanjang PPKM hingga akhir bulan Juli ini.
Namun, kunci utama untuk menyelesaikan Covid-19 adalah kekebalan massal yang bisi diperoleh dari vaksinasi.
Sejauh ini Indonesia telah mendatangkan berbagai vaksin dari luar negeri seperti, Sinovac, Sinopharm, dan AstraZeneca.
Dari sekian vaksin yang didatangkan oleh Indonesia tersebut, tercatat ada salah satu vaksin yang dikabarkan ampuh memberi perlindungan seumur hidup.
Menurut, artikel 24h.com.vn, pada Sabtu (17/7/21), vaksin tersebut adalah Oxford/AstraZeneca yang disebut menawarkan perlindungan kuat seumur hidup.
Hal ini diungkapkan oleh sebuah penelitian terbaru, yang dipublikasikan belakangan ini.
Vaksin ini mampu merangsang produksi antibodi yang membunuh virus, vaksin AstraZeneca juga menciptakan "kamp pelatihan" sel T yang menemukan dan membunuh di dalam tubuh.
Sel T memiliki kemampuan untuk menghancurkan agen berbahaya, bahkan varian baru.
Itu berarti tubuh dapat terus membuat sel T penting ini untuk waktu yang lama, mungkin seumur hidup, bahkan saat antibodi berkurang.
Ada banyak jenis sel T dengan fungsi yang berbeda-beda di dalam tubuh manusia.
Seperti menyerang langsung mikroorganisme yang berbahaya bagi tubuh seperti bakteri, virus, dan sel kanker.
Masing-masing bekerja dengan sel imun lain, mengatur respon imun dan membantu menekan sistem imun agar tubuh tidak bereaksi berlebihan.
Penelitian ini diterbitkan di Jurnal Nature, oleh para ilmuwan di Universitas Oxford (Inggris) dan Rumah Sakit Cantonal (Swiss), yang mengatakan bahwa meningkatkan kemampuan perlindungan sel T adalah "fungsi utama" vaksin dengan menggunakan teknologi vektor adenovirus seperti AstraZeneca dan Johnson & Johnson (J&J).
Profesor Burkhard Ludewig, dari rumah sakit Cantonal di Swiss, mengatakan, "Sel T yang dihasilkan dari kamp pelatihan yang diproduksi vaksin memiliki kualitas yang sangat baik."
"Adenovirus telah berevolusi bersama manusia untuk waktu yang sangat lama, dan telah belajar banyak tentang sistem kekebalan manusia dalam prosesnya," kata Profesor Ludewig.
Dan di sini mereka telah mengajari kita pelajaran penting tentang cara terbaik untuk mempromosikan sel-T reaktivitas.
Menurut Profesor Ludewig, diharapkan di masa depan, para ilmuwan akan menemukan cara untuk membuat vaksin baru yang menargetkan penyakit persisten seperti TBC, HIV, hepatitis C dan kanker.
Para peneliti menemukan bahwa adenovirus dapat menyerang sel-sel jaringan berumur panjang, bertindak sebagai "kamp pelatihan" sel-T.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa vaksin AstraZeneca lebih efektif dalam meningkatkan sel T daripada vaksin yang menggunakan teknologi mRNA seperti Pfizer dan Moderna.
Namun, tingkat peningkatan sel T sulit ditentukan.
Namun dalam studi yang baru diterbitkan, para ilmuwan merujuk pada perlindungan seumur hidup yang ditawarkan oleh vaksin AstraZeneca.
Profesor Paul Klenerman dari Nuffield School of Medicine, Universitas Oxford mengatakan, "Jutaan orang telah divaksinasi menggunakan teknologi vektor adenovirus di seluruh dunia."
"Tujuan akhir dari vaksin ini adalah untuk memberikan perlindungan sistemik. kekebalan jangka panjang menggunakan antibodi dan sel T," katanya.
"Studi ini membantu kita memahami lebih banyak tentang efektivitas vaksin dan mengapa efeknya pada sel T bertahan lama," kata Profesor Klenerman.
Vaksin AstraZeneca (Reuters (10 Maret 2021))
Indonesia Kembali Terima 1.041.400 Dosis Vaksin AstraZeneca
Terbaru, dikutip dari Kompas.com , sebanyak 1.041.400 dosis vaksin Covid-19 AstraZeneca tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jumat (16/7/2021) pagi. Ini merupakan kedatangan vaksin ke-26 yang diterima Indonesia.
"Hari ini kita kembali menerima kedatangan vaksin tahap ke-26 berjumlah 1.041.400 dosis vaksin jadi dari AstraZeneca. Total vaksin yang telah kita terima hingga pagi ini adalah 141.315.880 dosis vaksin," ujar Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Oscar Primadi, dalam keterangan pers melalui YouTube Sekretariat Presiden.
Oscar menuturkan, vaksin yang diterima pagi ini merupakan bagian dari perjanjian bilateral antara produsen AstraZeneca dan pemerintah Indonesia.
Ia mengatakan, pemerintah mengucapkan terima kasih kepada pihak AstraZeneca yang telah membantu masyarakat Indonesia untuk memperoleh vaksin.
"Serta kepada seluruh pihak yang telah membantu memperlancar kedatangan dan pendistribusian vaksin-vaksin yang kita peroleh dari seluruh pelosok provinsi di Indonesia," ungkapnya.
"Tentu saja kita patut bersyukur dengan kehadiran vaksin ini kita dapat terus mempercepat dan memperluas program vaksinasi agar dapat memperoleh target 2 juta vaksin per hari, terutama di bulan Agustus," lanjut Oscar.
Menurutnya, percepatan vaksinasi juga sangat penting dalam rangka kita untuk menurunkan laju penyebaran virus corona yang saat ini tengah meningkat.
Dia pun mengingatkan seluruh masyarakat Indonesia tentang pentingnya vaksinasi.
Sebab, ia menuturkan, setelah menerima dua dosis vaksinasi, tubuh akan terlindungi dengan baik.
"Meskipun dalam hal ini barangkali terpapar tapi gejalanya tentunya akan ringan dan risiko daripada kefatalan akan kita minimalisasi dengan adanya vaksinasi yang kita laksanakan ini," katanya.
"Vaksin yang terbaik adalah vaksin yang sudah ada. Mari segerakan vaksinasi untuk percepatan menuju kekebalan kelompok," tambah Oscar.
Adapun, pemerintah melaporkan jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi Covid-19 dosis kedua mencapai 15.810.099 orang (7,59 persen), pada Kamis (15/7/2021).
Sementara jumlah masyarakat yang sudah divaksin dosis pertama yakni sebanyak 39.628.149 orang (19,03 persen).
Program vaksinasi pemerintah ini sudah masuk tahap ketiga yang menyasar kelompok masyarakat kategori tenaga kesehatan, petugas publik, lansia, masyarakat rentan, masyarakat umum, dan anak usia 12-17 tahun.
Pada tahap ketiga ini, pemerintah menargetkan 208.265.720 orang sebagai sasaran vaksinasi Covid-19.
Kabar Baik, Vaksin Johnson & Johnson Beri Perlindungan dari Varian Delta
Selain itu, Vaksin Johnson & Johnson menunjukkan harapan terhadap perlindungan dari varian Delta.
Kabar baik dari vaksin dosis tunggal ini juga menunjukkan respons kekebalan yang bisa bertahan lama.
Hal itu disampaikan Johnson & Johnson pada, Kamis (1/7/2021), seperti dilansir dari Reuters.
Perusahaan farmasi ini mengatakan bahwa satu suntikan vaksin Covid-19 yang mereka kembangkan itu, menunjukkan harapan kuat terhadap varian Delta dan galur varian virus corona lain yang muncul.
Selain itu, vaksin Johnson & Johnson atau vaksin Janssen ini dapat memberikan perlindungan yang tahan lama terhadap infeksi yang lebih luas.
Data menunjukkan bahwa daya tahan respons imun pada penerima vaksin Johnson & Johnson setidaknya berlangsung selama 8 bulan, memberikan perlindungan dari infeksi Covid-19 varian Delta.
Perusahaan itu juga mengatakan bahwa vaksinnya 85 persen efektif dan juga dapat membantu mencegah rawat inap dan kematian.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), varian Delta pertama kalinya teridentifikasi di India menjadi varian virus corona yang dominan secara global.
Mathai Mammen, kepala penelitian dan pengembangan di bisnis obat-obatan J&J mengatakan data saat ini, selama 8 bulan yang dipelajari sejauh ini menunjukkan bahwa vaksin Johnson & Johnson dosis tunggal menghasilkan perlindungan atau respons antibodi penetralisir yang kuat dan tidak berkurang, bahkan terhadap varian Delta.
Vaksin Covid-19, uji vaksin Covid-19 pada varian virus corona Afrika Selatan. Novovax dan Johnson & Johnson ujikan vaksin virus corona pada varian baru virus corona Afrika Selatan, hasilnya efikasi vaksin kurang efektif.
"Sebaliknya, kami mengamati peningkatan (respons antibodi penetralisir) dari waktu ke waktu," kata Mammen.
Penerima vaksin Janssen ini menghasilkan antibodi penetral yang kuat terhadap semua varian virus corona termasuk varian Covid-19 Delta, kata perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat tersebut.
Varian Delta telah berkontribusi terhadap lonjakan kasus Covid-19 di India yang menghasilkan angka kematian harian tertinggi di dunia.
Varian tersebut juga mendorong Inggris menunda pembukaan lockdown yang dilakukan untuk menghentikan penularan, untuk satu bulan ke depan.
Hasil analisis vaksin Johnson & Johnson yang terkait efikasi vaksin yang menunjukkan peningkatan respons kekebalan terhadap varian Delta ini telah dikirimkan sebagai pra cetak di situs web bioRxiv sebelum peer review.
Selain vaksin Johnson & Johnson, vaksin-vaksin Covid-19 lainnya yang telah menguji ketahanan dan perlindungan terhadap varian Delta juga telah ditunjukkan vaksin Pfizer, Moderna dan AstraZeneca.
(*/Tribun-Medan.com/ Intisari )
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/vaksin-sinovac.jpg)