Muncul Lagi Setelah Vaksin Abdala, Obat Ini Disetujui UEA Diyakini Mampu Cegah Risiko Kematian Covid

Muncul lagi obat mujarab Covid-19 setelah Vaksin Abdala, buatan negeri komunis dari Kuba. Vaksin Abdala diyakini ampun cegah kematian Covid-19.

Pixabay/HakanGERMAN
Ilustrasi vaksin - Muncul Lagi Setelah Vaksin Abdala, Obat Ini Disetujui UEA Diyakini Mampu Cegah Risiko Kematian Covid 

TRIBUN-MEDAN.com - Muncul lagi obat mujarab Covid-19 setelah Vaksin Abdala, buatan negeri komunis dari Kuba. Vaksin Abdala diyakini ampuh cegah kematian Covid-19.

Baru-baru seperti di beritakan Arab News, obat Sotrovimab mampu mencegah kematian hingga 100 % dan 99% efektif bagi pasien covid-19 yang masuk dalam kategori paling berisiko.

Hal itu setelah melalui tahap evaluasi selama dua minggu dan melibatkan 6.175 pasien, riset menunjukkan bahwa Sotrovimab mampu mencegah kematian hingga 100% dan 99% efektif mencegah pasien masuk ke unit perawatan intensif,

Melihat hal itu Uni Emirat Arab (UEA) menyetujui penggunaan obat Sotrovimab untuk pasien Covid-19 yang masuk dalam kategori paling berisiko.

Obat Sotrovimab belakangan ini viral karena diyakini mampu menurunkan risiko kematian pada pasien Covid-19.

Adapun kategori pasien yang paling berisiko yakni orang dewasa, wanita hamil, dan anak-anak dengan usia di bawah 12 tahun, yang memiliki gegala ringan hingga sedang.

sebagaimana diberitakan Arab News.

Otoritas kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan dan Pencegahan (MoHAP) juga menyebutkan bahwa 97% pasien pulih total dalam 14 hari.

Dari keseluruhan pasien yang diteliti, sekitar 52% di antaranya berusia 50 tahun atau lebih, dan hampir semua memiliki penyakit seperti obesitas, kanker, penyakit kardiovaskular, dan diabetes.

Sotrovimab merupakan obat antibodi monoklonal yang diberikan melalui terapi intravena.

Obat ini diproduksi oleh perusahaan biofarmasi global GlaxoSmithKline.

MoHAP telah menyetujui penggunaan Sotrovimab setelah melakukan evaluasi lokal.

Ini juga telah disetujui untuk penggunaan darurat oleh Food and Drug Administration AS.

UEA adalah salah satu negara pertama di dunia yang menerima pengiriman Sotrovimab pada pertengahan Juni.

Meski sudah memanfaatkan obat tersebut, nyatanya UEA masih belum bisa sepenuhnya mengendalikan penyebaran virus corona.

Pada Minggu (18/7/2021), masih ada tambahan 1.565 infeksi Covid-19 baru dan 4 kematian. Dengan ini totalnya menjadi 659.449 kasus infeksi dan 1.896 kematian. Sejauh ini UEA telah mencatat 637.267 pasien yang berhasil sembuh total.

Program vaksinasi Covid-19 di UEA juga terbilang cukup baik, dengan dosis yang diberikan kini telah lebih dari 16,3 juta di seluruh negeri

Daftar Obat Terapi Covid-19 Tak Lagi Direkomendasikan

Sejumlah obat dinyatakan tak direkomendasi untuk penderita Covid-19. Satu di antaranya adalah obat Azithromycin.

Obat Azithromycin merupakan obat antibiotik yang kerap digunakan untuk merawat pasien Covid-19.

Meningkatnya kasus Covid-19 tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa.

Kini, angka infeksi virus SARS-CoV-2 terhadap anak-anak pun turut diperhitungkan. 

Oleh karenanya, banyak orangtua yang mencoba melakukan usaha terbaik saat menangani anak mereka yang terinfeksi. Satu di antaranya memberikan obat Azithromycin. 

Perlu diketahui jika lima perhimpunan dokter spesialis di Indonesia telah mengeluarkan rekomendasi bahwa obat Azithromycin tidak lagi digunakan dalam standar perawatan pasien Covid-19

Selain itu, aturan terkait Azithromycin tidak digunakan tertuang dalam 'Revisi Protokol Tatalaksana Covid-19' yang ditujukan kepada Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Azithromycin adalah salah satu antibiotik.

Penggunaannya adalah untuk mengobati infeksi.

Namun, obat ini masih bisa diberikan pada pasien covid jika terdapat indikasi infeksi bakteri.

Menurut DR dr Anggraini Alam, Sp A (K), awal mula penggunaan obat ini saat Covid-19 muncul pertama kali.

Setelah itu ada satu penelitian dari Prancis dengan 11 pasien

"Yang menggunakan itu, hasilnya baik. Itu adalah awalnya.

Namun akhirnya dari berbagai penelitian seperti WHO melihat bahwa yang Azithromycin tidak masuk dalam standar dan tidak ada dalam siklus virus SARS-CoV-2 ini," katanya dalam live Instagram IDAI_IG, Minggu (18/7/2021).

Oleh sebab itu, obat ini tidak diberikan sebagai terapi Covid-19 saat ini.

Menurut dr Anggraini penggunaan Azithromycin karena virus SARS-CoV-2 masih baru dan belum banyak penelitian terkait hal tersebut.

Seiring berjalannya waktu, banyak penelitian yang mengkaji virus ini, sehingga banyak penemuan-penemuan baru. Dimulai dari regulasi hingga pengobatan. 

Dan, Azithromycin, kata dr Anggraini digunakan saat adanya infeksi yang disebabkan oleh bakteri.

Selain itu, obat ini tidak disarankan untuk diberikan pada anak sebagai terapi Covid-19. 

"Pemberian antibiotik memberikan menimbulkan kerugian.

Apa lagi Azithromycin mudah resisten.

Buat apa memberikan sesuatu pada anak, padahal itu tidak perlukan," katanya lagi.

(*/ Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di Serambi

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved