Breaking News:

Mantan Pejabat Disdik Tebingtinggi Menangis dan Menuntut Keadilan, Hakim: Terdakwa Jangan Curhat!

Terdakwa Efni Efridah menilai ia telah dikambinghitamkan dalam perkara yang merugikan negara Rp 2,3 miliar tersebut.

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI
Mantan Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan (PPD) Tebingtinggi Efni Efridah menangis tersedu-sedu saat mengikuti sidang secara daring, Kamis (22/7/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dituntut pidana penjara paling lama dibandingkan dua terdakwa lainnya, mantan Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan (PPD) Tebingtinggi Efni Efridah menangis tersedu-sedu di Pengadikan Negeri Medan, Kamis (22/7/2021)

Di hadapan majelis hakim yang diketuai oleh Jarihat Simarmarta, terdakwa menilai ia telah dikambinghitamkan dalam perkara pengadaan buku panduan pendidikan SD dan SMP yang merugikan negara Rp 2,3 miliar tersebut.

"Disini saya merasa dikambinghitamkan. Bukan hanya itu saya merasa Jaksa Penuntut Umum seperti sangat ingin memenjarakan saya dengan hukuman yang seberat beratnya, seolah saya pemain kelas kakap," kata Efni. 

Efni menuturkan terkait perkara ini, dirinya hanya mengikuti perintah atasannya yakni terdakwa Pardamean selaku Mantan Kadisdik Tebing Tinggi.

"Saya ini hanya bawahan yang diperintahkan oleh atasan. Pardamean mengambil alih uangnya tapi kenapa hukuman saya berat sekali seakan saya adalah dalangnya," ucapnya sambil menangis.

Dalam sidang tersebut, ia juga mengaku dijebak sehingga seolah-olah menjadi pelaku utama dalam perkara ini.

"Saya seperti dijebak disini, saat itu tiba tiba saya langsung dituduh melakukan tindakan itu dan saya langsung dibawa ke polisi tanpa diizinkan untuk bertemu dengan anak saya," Ucapnya sambil menangis di hadapan majelis hakim. 

Sambil menangis , Efni mengatakan ia ketakutan saat dituntut delapan tahun penjara dan denda Rp 200 juta dengan subsider 6 bulan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Khairur Rahman.

 "Hancur hati saya, Pak. Anak saya dua masih kecil. Masih butuh bimbingan saya. Saya takut, Pak Hakim, anak saya minder mempunyai ibu seorang narapidana," ujarnya. 

Ia menilai tuntutan JPU tersebut tidak mencerminkan keadilan. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved