Breaking News:

Pemuda Pengangguran Nekad Puasa 40 Hari Berturut Demi Lamborghini, Kabarnya jadi Sorotan Publik

Mark sendiri dikenal sebagai sosok yang religius dan menjadi ketua pemuda di gereja tempat ia biasa beribadah. Namun, entah bagaimana,

Editor: Dedy Kurniawan
facebook
Lamborghini Huracan Pemuda Pengangguran Nekad Puasa 40 Hari Berturut Demi Lamborghini, Kabarnya jadi Sorotan Publik 

Dia pulang kampung ke Desa Ngayung, Kecamatan Maduran, Lamongan, Jawa Timur naik mobil Lamborghini Aventador.

Hal itu diketahui dari hebohnya video yang menampilkan mobil Lamborghini Aventador berwarna merah blusukan ke jalanan kampung viral di media sosial.

Video itu diunggah oleh akun Facebook Fabian Rayhan pada Minggu, 16 Mei 2021. Dari video berdurasi pendek tersebut, pengemudi tampak menyapa dan menyalami warga.

Lamborghini itu menjadi bahan tontonan anak-anak yang membuntuti dari belakang mobil tersebut.

"Sih merah yg lagi viral di ngayung. Edisi mobil e nguri omah," tulis akun Facebook Fabian Rayhan.

Hingga Minggu (23/5) siang, unggahan video itu telah disukai lebih dari 300 kali, dikomentari 261 kali, dan dibagikan lebih dari 670 kali.

Belakangan diketahui mobil mewah tersebut melintas di jalan yang ada di Desa Ngayung, Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

Lamborghini itu adalah milik Syaiful (43), pria kelahiran Ngayung yang kini telah sukses di tanah perantauan.

Lulus SMP, Syaiful langsung merantau.

Mobil supercar seperti Lamborghini, Ferrari, Porsche, Jeep, Lotus dan berbagai merek lainnya terparkir di mall Senayan City Jakarta Pusat, Minggu (3/11/2013). Klub yang beranggotakan 20 mobil supercar ini melakukan kampanye tertib lalulintas serta memberikan santunan kepada anak yatim piatu.
Mobil supercar seperti Lamborghini, Ferrari, Porsche, Jeep, Lotus dan berbagai merek lainnya terparkir di mall Senayan City Jakarta Pusat, Minggu (3/11/2013). Klub yang beranggotakan 20 mobil supercar ini melakukan kampanye tertib lalulintas serta memberikan santunan kepada anak yatim piatu. (TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN)

Dia menyusul orangtuanya yang telah lebih dulu mengadu nasib di sana.

"Saya merantau tahun 1992. Karena orangtua kan sudah ke Jakarta sejak tahun 1988, jualan sea food, pecel lele, gitu-gitu di daerah Sunter," terangnya, Minggu (23/5).

Waktu itu Syaiful turut membantu orangtuanya dalam berjualan, misalnya seperti mencuci piring, belajar memasak, dan lain sebagainya.

Hingga akhirnya, Syaiful muda sedikit demi sedikit mulai memahami tentang teknik berjualan seperti yang diturunkan orangtuanya.

"Sampai akhirnya bisa bikin warung pecel lele sendiri di Kelapa Gading sekitar tahun 1994, sejarahnya seperti itu, awalnya usaha kecil-kecilan di pinggir jalan, kaki lima," kata dia.

Pecel Lele dan Sepatu

Tak lama setelah berhasil mendirikan warung sendiri, Syaiful punya banyak langganan.

Tak tanggung-tanggung, mereka berasal dari klub-klub sepeda motor.

Berangkat dari situ, Syaiful mencoba menaruh sepasang hingga dua pasang sepatu di atas meja warungnya untuk dijual.

"Kebetulan mereka itu dari orang-orang yang lumayan lah, ada yang pesen, saya beliin sembari jualan di warung," lanjut dia.

Singkat cerita, pada 2002, Syaiful memutuskan untuk lebih fokus menggeluti dunia fashion dan meninggalkan usaha pecel lelenya.

Pada tahun itu, ia bertolak ke China, untuk berbelanja sejumlah barang selanjutnya dijual di Indonesia.

"Saya pergi ke China buat belanja-belanja, seperti baju, topi, sepatu, dan lainnya, lalu saya jual lagi di Indonesia," papar Syaiful.

Seiring berjalannya waktu, Syaiful mulai bisa menjalankan roda bisnisnya hingga kemudian berhasil membuka pabrik di Tangerang pada 2013 silam.

Hingga saat ini, ia telah memiliki empat perusahaan, tiga di bidang sepatu, satu lagi adalah pengolahan karet.

"Jadi saya itu lama impor barang-barang apa saja dari China, ya gelanglah, ya topilah, ya kaos, ya celana, ya sepatu. Itu bertahun-tahun. Ya jatuh bangun, namanya dari nol enggak punya modal," tutur Syaiful.

Namun, pada masa pandemi seperti ini, bisnis impornya telah berhenti lantaran daya beli masyarakat yang semakin menurun.

Dia pun mulai berpikir untuk mengembangkan bisnisnya yang telah ada sembari berharap bisa membantu produk-produk dalam negeri.

Bukan Pamer

Syaiful mengatakan, niatnya membawa Lamborghini blusukan ke desa tempatnya dilahirkan bukanlah untuk ajang pamer kepada warga sekitar.

"Saya juga bingung, saya jadi malu juga, disangkanya kita show off kan, sebenarnya saya main mobil-mobil sport itu sudah lama, dari 2008.

Nah saya ini rindu, semenjak pandemi tidak pernah touring, akhirnya sebelum larangan mudik, saya iseng pulang ke Madiun, ada vila di sana karena istri saya orang sana," ujarnya.

Lamborghini itu, lanjut Syaiful, tidak ia kendarai sendiri, melainkan dibawa menggunakan truk towing.

"Jadi saya towing (Lamborgini) ke Madiun, terus iseng kemarin, ah gue pakai ajalah ke kampung (Ngayung), karena saya setiap tahun, tiga kali ke sana untuk nengok kuburan orangtua saya," ujar Syaiful.

Baca juga: FAKTA Isu Hubungan Spesial Tukul Arwana dan Vega Darwanti, Sebut Sang Komedian The Bear

Sebelum itu, saudara Syaiful juga telah meminta kepadanya untuk sesekali membawa mobil sport mewah tersebut ke Ngayung.

"Anggep aja touring, sekali-kali saya bawa ke sana (Ngayung) kan gitu. Saudara sebelumnya bilang sesekali mbok yo dibawa biar anak-anak di sini senang, yaudah saya bawa," terang dia.

Akan tetapi, Syaiful justru kaget begitu mendengar kabar kedatangannya ke kampung halamannya menggunakan Lamborghini justru viral di media sosial

(*/Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di BangkaPos.com

Sumber: Bangka Pos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved