Breaking News:

Miliki Valuasi Lebih dari USD 1 Miliar,Unicorn Mulai Catat Saham di BEI

Tujuannya agar para investor bisa memilih saham unicorn dengan tepat, memiliki prospek yang baik ...

Penulis: Yufis Nianis Nduru | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/HO
MESKI di tengah pandemi, aktivitas Go Public tahun ini di Bursa Efek Indonesia (BEI) merupakan yang terbanyak jika dibandingkan dengan bursa saham di kawasan ASEAN. 

TRIBUN–MEDAN.com, MEDAN - Unicorn, satu diantara startup yang kini telah memiliki valuasi lebih dari USD 1 miliar, berencana melakukan Intial Public Offering (IPO) dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kepala Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia Sumatera Utara (BEI Sumut) Muhammad Pintor Nasution mengatakan, perusahaan ini memiliki daya tarik tersendiri karena pemanfaatan teknologinya akan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis digital.

"Unicorn yang mencatatkan sahamnya di BEI ini diharapkan dapat meningkatkan iklim investasi di Pasar Modal Indonesia khususnya dalam mendorong minat investasi dari investor lokal dan asing," kata Pintor, Sabtu (24/7/2021).

Ditambahkannya, perusahaan startup dengan valuasi unicorn ini juga memiliki karakteristik yang unik dibandingkan dengan perusahaan pada umumnya seperti tingkat pertumbuhannya yang sangat tinggi dan jumlah tahapan pendanaan yang dilakukan sebelum IPO cukup banyak.

Sehingga perlu cara tersendiri untuk melakukan valuasi atas saham tersebut. Tujuannya agar para investor bisa memilih saham unicorn dengan tepat, memiliki prospek yang baik, dan bisa memberikan nilai tambah di masa mendatang.

"Investor perlu memahami valuasi bisnis dari unicorn ini. Valuasi bisnis adalah proses umum untuk menentukan nilai ekonomi dari keseluruhan bisnis atau unit perusahaan. Valuasi dapat digunakan untuk menentukan nilai wajar bisnis sesuai dengan risiko dan ekspektasi return dari investor," ujar Pintor.

Baca juga: OJK Regional 5 Gelar Edukasi Bursa Saham & Bursa Jangka, Masih 2 Persen Jumlah Investor di Indonesia

Sementara itu, sebelum pada tahapan IPO, unicorn telah melakukan banyak tahapan pendanaan lainnya.

Selanjutnya, Pintor menuturkan investor pasar modal juga perlu mengetahui pre-money valuation, yaitu valuasi sebelum mendapatkan investasi dalam hal ini sebelum IPO, dan post-money valuation ialah valuasi setelah mendapatkan investasi dalam valuasi ketika IPO. Lalu investor juga perlu untuk menilai kelayakan atau prospek perusahaan yaitu, pricing dan value. 

"Price (harga) adalah what you pay; based on demand and supply. Sementara, value (nilai) adalah what you get; based on projection. Apabila harga saham lebih rendah dari nilai yang ditetapkan oleh investor maka dapat disimpulkan bahwa harga tersebut underprice dan layak sebagai alat berinvestasi," katanya.

Selain itu, nilai ini terefleksi dari analisis fundamental perusahaan. Beberapa metodologi yang cukup sering digunakan adalah DCF (Discounted Cash Flow) dan Comparable atau Relative Analysis.

"Sebagaimana kita tahu metode DCF ini dilakukan dengan melakukan proyeksi cash flow perusahaan selama beberapa tahun dan kemudian dilakukan present value atas cash flow tersebut agar tercermin nilai saat ini. Pada kasus seperti unicorn ini dimana seringkali memiliki cashflow yang negatif maka perlu melakukan proyeksi dengan waktu yang lebih panjang," kata Pintor.

Ia mengutarakan, metode selanjutnya yang sering digunakan adalah comparable/relative analysis atau kadang disebut juga multiple analysis yaitu membandingkan nilai tertentu terhadap valuasi pada satu perusahaan dengan perusahaan lain atau rata-rata industri.(cr20)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved