Breaking News:

Program 100 Hari Kerja, Benahi Pelayanan Publik, UMKM, dan Masalah Lingkungan Hidup

Dalam program Ngopi Sore yang tayang dari Studio Tribun Medan, Atika Azmi Utammi Nasution mengupas sejumlah program yang akan jadi prioritas.

Penulis: Mustaqim Indra Jaya | Editor: Tommy Simatupang
TRIBUN MEDAN / DANIL SIREGAR
Wakil Bupati Madina Atika Azmi Utammi Nasution saat berbincang dengan Tribun Medan dalam acara "Ngopi Sore" 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dilantik sebagai Wakil Bupati Mandailing Natal (Madina) periode 2021-2024, banyak pekerjaan yang telah menanti dan mesti sesegera mungkin diselesaikan oleh Atika Azmi Utammi Nasution bersama Bupati Madina, Jakfar Sukhairi Nasution.
Dalam program Ngopi Sore yang tayang dari Studio Tribun Medan di Gedung Kompas Gramedia Jalan KH Wahid Hasyim Sabtu (25/7/2021), wakil bupati perempuan termuda di Indonesia itu mengupas sejumlah program yang akan jadi prioritas untuk mereka kerjakan terlebih dahulu.

Atika memastikan dalam 100 hari kerja akan memastikan pelayanan publik dari berbagai sektor berjalan dengan baik. "Saya dan Pak Bupati, soroti adalah pelayanan publik. Ini persoalan yang cukup pelik. Karena itu, dalam 100 hari kerja ini saya sudah merencanakan untuk turun ke tiap-tiap kecamatan, saya akan cek satu persatu. Golnya adalah bagaimana nantinya semua warga masyarakat Mandailingnatal bisa melakukan pendaftaran secara online jika ingin berobat ke puskesmas atau di rumah sakit umum. Kenapa mesti online? Begini, ya. Secara geografis, wilayah Kabupaten Mandailingnatal sangat luas. Satu daerah dengan yang lain ada yang terletak sangat berjauhan. Misalnya ada yang sampai harus menempuh lima jam untuk sekali perjalanan. Ini akan jadi masalah jika kepentingannya menyangkut perobatan. Sudah jauh-jauh perjalanan, dokter ternyata tidak ada. Kalau harus pulang butuh lima jam lagi. Sekiranya pun menginap, tentu, diperlukan biaya tambahan. Dengan sistem online, di mana bisa dilakukan pem-booking-an hari dan jam konsultasi atau perobatan dan tahu dokternya siapa serta di rumah sakit mana akan dirawat, warga bisa memastikan perjalanan mereka untuk berobat tidak sia-sia,"ujarnya.

Wabup Madina Atika Azmi Utammi Nasution
Wabup Madina Atika Azmi Utammi Nasution (TRIBUN MEDAN / DANIL SIREGAR)

Demi mendukung pelayanan publik lebih cepat, Pemkab Madina akan membangun aplikasi yang ditempatkan di setiap balai desa. Setiap perangkat desa mendapatkan bimbingan untuk menggunakan aplikasi. Sehingga, bisa membantu para lansia yang tidak melek teknologi. 

Selain itu, Atika menyebutkan untuk Disdukcapil Medan juga menjadi prioritas. Pelayanan juga memaksimalkan teknologi berbasis aplikasi. Tidak boleh ada lagi antrean panjang untuk mengurus KTP. Dua jam tiga jam menunggu. "Kita akan coba persingkat dengan aplikasi. Warga bisa isi identitas mereka di sana, lalu tinggal datang untuk keperluan pemindaian (iris) mata dan membubuhkan tanda tangan. Jadi semua nanti kita atur time slot-nya.
Namun ini semua, kan, balik-baliknya ke anggaran juga. Kita punya anggaran, tetapi di tengah pandemi Covid-19 yang masih terus berlarut ini, sangat banyak refocusing anggaran untuk penanganannya. Mungkin ini yang akan sedikit jadi hambatan, terutama di masa 100 hari kerja,"katanya.

Saat disinggung tentang perhatian di sektor UMKM, Atika mengatakan masih terkendala dengan recofusing anggaran. Meski demikian tetap akan berupaya mencari jalan keluar terbaik. "Terkait UMKM sendiri, tentu saja, menjadi perhatian besar kami. UMKM menjadi salah satu sumber PAD yang sangat bisa dimaksimalkan. Banyak sekali di sini. Sebutlah dodol atau kopi  yang sangat terkenal. UMKM akan jadi program berkesinambungan yang tidak putus, dan kerjanya tak bisa ngebut. Artinya tidak bisa diukur dari kerja 100 hari. Karena banyak sekali warga masyarakat Mandailingnatal yang bersumber penghasilan dari UMKM, maka value added perlu diberikan penjelasan yang lebih terperinci, perlu diberikan penyuluhan. Menyangkut apa saja? Iya, termasuk packaging, branding, juga izin dan sertifikat halal dari MUI. Saya berjanji turun langsung mencari market untuk produk-produk UMKM ini. Misalnya kopi. Saya mau itu bisa masuk Kualanamu (Bandara Internasional Kualanamu, red). Saya berkeinginan kopi Mandailing bisa dicicipi bukan hanya di kafe-kafe di Medan, Padangsidimpuan, atau Panyabungan atau kota-kota lain di Sumatra Utara. Namun bagaimana agar bisa masuk ke bandara, ke maskapai-maskapai penerbangan. Biasanya ada suguhan kopi di penerbangan. Atau kapal-kapal pesiar. Nah, kopinya itu mesti kopi mendheling. Kita punya potensi kenapa tidak kita gaungkan,"ujarnya.

Wabup Atika Azmi Utammi Nasution
Wabup Atika Azmi Utammi Nasution (TRIBUN MEDAN / DANIL SIREGAR)

"Kalau menghandle kalau bisa jangan. Bentuknya lebih ke mitra. Kita Pemerintah Kabupaten Mandailingnatal menjalin kemitraan dengan kelompok-kelompok tani dan koperasi-koperasi. Bermitra dalam arti, banyak sekali yang menjual kopi yang katanya dari Mandailing. Padahal bukan. Kemasannya saja. Jadi ini yang perlu kita lakukan, Kita akan patenkan. Ini menjadi tugas pemerintah. Setidaknya untuk masuk ke pasar-pasar nasional. Kita ingin mendunia, pastinya, tapi nasional dulu, lah. Kita tak perlu muluk-muluk dulu. Jadi mekanisme, kita memberikan sosialisasi dan penyuluhan, edukasi, tepatnya, lalu membukakan jalan. Dengan demikian para petani kita juga akan lebih sejahtera,"lanjutnya.

Di sisi lain, salah satu persoalan terbesar Mandailingnatal, yang sudah jadi persoalan berlarut, adalah lingkungan hidup. Satu di antaranya penambangan emas. Menurut Atika, persoalan ini memang cukup rumit. Pemerintah punya keterbatasan. Pemerintah Kabupaten Mandailingnatal tidak memiliki kuasa penuh untuk menertibkan atau melanjutkan atau mengambil kebijakan mengenai tambang. Harus ada peran dari Pemerintah Provinsi Sumatra Utara dan kementerian. Artinya, harus duduk bersama dan keputusan diambil secara bersama-sama.

Wabup berparas cantik ini juga mendapatkan tugas dalam menekan kasus Covid 19 di Madina. Langkah yang diambil Pemkab Madina yakni merangkul semua unsur dan kalangan, termasuk tokoh masyarakat, ulama, guru-guru. "Wilayah Mandailingnatal sangat luas dan kami cuma punya tiga rumah sakit umum yang dapat menangani pasien Covid-19. Dua di Panyabungan satu di Natal. Dan rumah sakit umum ini, kan, tidak hanya menangani Covid-19. Masih banyak penyakit lain. Banyak pasien lain yang harus kami layani. Nah, ini yang sangat kami khawatirkan. Kita sekarang masuk zona kuning. Kemarin sempat hijau. Kenapa naik? Karena daerah kami ini perlintasan. Banyak sekali bus yang setop, singgah. Jadi masih sangat banyak mobilitas di sini. Begitu pun sejauh ini, alhamdulillah, masih bisa tertangani dengan baik,"ungkapnya.

Terakhir saat disinggung tentang kekompakan dengan bupati, Atika memastikan sejak awal sudah bersepakat membagi bidang masing-masing. "Pak Bupati sangat cakap dalam birokrasi. Beliau pernah menjabat wakil bupati, pernah legislator dua periode. Jadi beliau pun sangat mumpuni dalam seluk beluk stabilitas sosial politik. Sedangkan saya akan fokus pada perekonomian. Sesuai bidang saya, disiplin ilmu saya. Kami rasa dengan pembagian tugas dan komunikasi yang efektif dan lancar. Saya masih muda. Saya fokus belajar karena belum berpengalaman. Sembari memimpin sembari menimba ilmu,'pungkasnya.(ind/tribun-medan.com)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved