Dampak PPKM di Medan, Omset Angkot Babak Belur, Organda : Pemerintah Tonjolkan Ketidakadilan

Ia mengatakan dalam sehari hanya dapat mengumpulkan sekitar Rp 30- 50 ribu saja dan terkadang tidak dapat. 

Editor: Ayu Prasandi
Tribun Medan/Yufis
Suasana angkutan kota yang tampak sepi bahkan tidak ada penumpang, Senin (26/7/2021). 

TRIBUN-MEDAN. com, MEDAN- Kebijakan Pemerintah Kota Medan (Pemko) dalam menyekat beberapa area jalan untuk melaksanakan kegiatan PPKM sangat berdampak bagi angkutan umum. 

"Sangat berat, dengan kebijakan yang diterapkan pemerintah menonjolkan ketidakadilan terhadap angkutan kota (angkot) sebab di lain sisi seperti angkutan umum massal Bus Trans Metro Deli diistimewakan Pemko Medan, mereka dengan mudahnya melewati area penyekatan berbeda dengan kami yang disekat di mana-mana," kata Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Medan Mont Gomery Munthe, Senin (26/7/2021). 

Baca juga: Dulu Heboh Nikahi Elly Sugigi, Kabar Ferry Anggara Istri Baru Cantik, Profesinya Disorot

"Bus ini dibebaskan sedangakan angkutan  kota tidak, dalam hal ini pemerintah melanggar sila ke lima. Tanpa mereka sadari juga kami tersakiti karena hal ini," tambahnya. 

Menurut Mont pemerintah hanya bisa laksanakan kebijakannya sendiri tanpa mengetahui keadaan mereka. 

"Sudah dua minggu karena PPKM ini ditambah lagi dengan adanya Bus trans itu, omset kami turun drastis berkisar 60 sampai 70 persen," ujar Mont. 

"Kami juga tidak ada mendapatkan stimulus atau bantuan seperti yang diimingkan pemerintah selama ini, itu hanya omongan saja," katanya. 

"Kami berharap kebijakan PPKM ini di evaluasi karena lamban laut kami bisa berhenti operasi juga," tambahnya. 

Bus Trans Metro Deli dapat keistimewaan dari petugas penyekatan, sehingga menimbulkan kontra di kalangan sopir angkot, Rabu (14/7/2021).(TRIBUN MEDAN)
Bus Trans Metro Deli dapat keistimewaan dari petugas penyekatan, sehingga menimbulkan kontra di kalangan sopir angkot, Rabu (14/7/2021).(TRIBUN MEDAN) (TRIBUN MEDAN)

Baca juga: Pelaku Penyiram Air Keras ke Wartawan Media Online Kabarnya Sudah Ditangkap, Ini Kata Kabid Humas

Hal ini senada juga diungkapakan Agus Siahaan satu diantara supir angkot no 64. 

"Hancur lah pendapatan kami karena PPKM ini, semua jalan disekat ditambah tempat-tempat umum seperti mal ditutup otomatis penumpang kami pun jarang ada," kata Agus. 

Ia mengatakan dalam sehari hanya dapat mengumpulkan sekitar Rp 30- 50 ribu saja dan terkadang tidak dapat. 

"Sebelum keadaan ini kami masih bisa dapat Rp 100 ribu per hari tapi sekarang paling dapat Rp 50 ribu itupun jarang, belum lagi kami harus bayar setoran, uang minyak, dan lainnya.

Hancur lah dibilang. Berharap pemerintah bisa beri kami bantuan," ujar Agus. 

(cr20/tribun-medan.com) 

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved