Breaking News:

Pecahan UPK Rp 75 Ribu Beredar, Minim Digunakan untuk Transaksi

Padahal, UPK 75 ini alat pembayaran sah yang dapat digunakan untuk bertransaksi secara umum.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/SEPTRIMA
SEORANG warga menunjukkan UPK 75 RI pecahan Rp 75 ribu di Medan, Rabu (16/9/2020). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Peredaran Uang Pecahan Khusus (UPK) Rp 75 ribu sudah mencapai angka 95 persen yang sudah tersebar di lapisan masyarakat. Namun begitu, berdasarkan pantauan Tribun Medan, UPK 75 ini jarang ditemukan sebagai alat transaksi di Sumatera Utara.

Padahal, UPK 75 ini alat pembayaran sah yang dapat digunakan untuk bertransaksi secara umum.

Ada pun untuk di Sumatera Utara, pecahan uang khusus Rp 75 ribu ini sudah beredar sebanyak 3,1 juta lembar, jumlah ini didominasi Kota Medan sebanyak 2 juta lembar di awal pencetakannya.

Sementara itu, untuk KPw Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara saat ini menyimpan sebanyak 6,8 persen UPK 75, lebih banyak dibanding nasional yang menyimpan 5 persen.

Baca juga: Minat Tukar Uang Pecahan UPK 75? Kini Satu KTP Bisa Dapat 100 Lembar, Begini Syarat dan Lokasinya

Saat dikonfirmasi kepada Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Soekowardojo, ia mengakui bahwa UPK 75 ini minim digunakan sebagai alat transaksi biasa.

Soeko juga membeberkan bahwa ternyata banyak masyarakat yang enggan mengeluarkan UPK 75 karena takut tak akan mendapat pecahan tersebut lagi.

"Ada beberapa motif jarang beredarnya UPK 75 ini, seperti sayang untuk dibelanjakan karena mungkin untuk mendapatkannya kembali agak sulit sehingga masyarakat cenderung menahan dan memilih untuk mengoleksi," ungkap Soeko, Sabtu (31/7).

"Memang yang kita harapkan seperti itu, mesti digunakan sebagai alat transaksi tetapi juga karena dijatahkan terbatas dan tidak dicetak ulang. Harapannya memang menjadi kenang-kenangan," lanjutnya.

Dikatakan Soeko, peredaran UPK 75 ini meningkat pesat saat momen Idul Fitri, dimana masyarakat menggunakan pecahan Rp 75 ribu ini sebagai THR kepada keluarga ataupun karyawan.

Selain itu, Soeko juga menjelaskan bahwa minimnya transaksi menggunakan pecahan uang ini lantaran masih ada pedagang yang ragu untuk menerima uang tersebut.

"Transaksi menggunakan uang itu sangat minim karena banyak masyarakat kita yang agak ragu menerima sebagai alat pembayaran, padahal itu alat pembayaran yang sah. Ada masyarakat yang bertransaksi menggunakan itu ya harus diterima,"ucapnya.

Saat dikonfirmasi kepada pedagang di pasar, ternyata masih banyak yang memilih untuk menggunakan pecahan uang lain.

"Kalau yang Rp75 ribu kadang sulit cari kembaliannya kan terus juga nggak ada pula yang pakai ini. Jadi pernah kusuruh cari uang yang pas aja lah," ungkap Irda, pedagang bawang di Pasar MMTC Deliserdang.

Selain itu, Irda mengatakan sempat takut untuk menerima karena khawatir tidak dapat digunakan karena tak banyak yang menggunakan uang tersebut. "Ragu juga kan nggak ada pula kutengok pakai uang kayak gitu di sini, jadi mending pakai uang biasa aja lah," kata Irda.

Namun begitu, para pedagang lainnya yang sudah paham nilai UPK 75 tetap akan menerima uang tersebut. "Ya terima ajalah, kan dari bank itu pasti asli. Cuma memang belum pernah pula kita terima uang kayak gitu di pajak ini," ucap Agus, pedagang tomat.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved