Breaking News:

Bincang-bincang dengan Pengarang Buku Tafsir Al Wasi' Mazhab Islam Transitif, Model Tafsir Milenial

Menurut Dr. Anshari Yamamah, M.A pengarang buku Tafsir Al Wasi' mengatakan jika mengutip pandangan intelektual Islam Amin Abdullah

Editor: Ismail
HO
Bincang-bincang dengan pengarang Buku Tafsir Al Wasi' Mazhab Islam Transitif, model tafsir milenial era revolusi industri 4.0, Jumat (30/7/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Alquran adalah petunjuk bagi manusia khususnya kepada mereka yang beriman.

Akan tetapi petunjuk yang diturunkan Allah melalui Malaikat Jibril itu tidak hanya menjadi nilai-nilai normatif, tapi juga sekaligus harus sampai pada realisasi nilai-nilai empiris.

Selama ini mayoritas umat, termasuk para akademisi, ulama dan para ustaz dan ustazah, hanya menjadikan Alquran sebatas petunjuk nilai normatif semata sehingga melupakan nilai-nilai empiris.

Menurut Dr. Anshari Yamamah, M.A pengarang buku Tafsir Al Wasi' mengatakan jika mengutip pandangan intelektual Islam Amin Abdullah dari Indonesia dan atau Fazlur Rahman dari Pakistan bahwa ajaran Islam itu terkait dengan hal hal yang bersifat normatifitas dan historisitas.

"Bahwa ajaran Islam itu terkait dengan hal hal yang bersifat normatifitas dan historisitas yang berkelindan dalam satu tujuan dan tak terpisahkan antara satu dengan lainnya. Satu sisi normatif akan berpengaruh terhadap empirisitas, demikian juga realitas empiris dapat mempengaruhi sisi normatifitas," ungkapnya saat bincang-bincang di kantor Tribun Medan, Jumat, (30/7/2021).

Karena itu, ia mengatakan menjadi satu pertanyaan besar mengapa umat justru meninggalkan nilai-nilai empiris dari Quran? Kemudian terperangkap dalam nilai nilai normatifitas semata.

"Padahal Alquran diturunkan Allah menjadi rahmat dan petunjuk kepada seluruh alam, agar dapat tertata dan berjalan sesuai dengan sunnatullah yang yang seharusnya dimaksimalkan oleh uma," ungkapnya.

Menurutnya salah satu musabab yang cukup menarik dan menjadi atensi dengan lahirnya Tafsir Al Washi’ Islam Transitif ini adalah menggagas adanya profesionalitas keilmuan dalam menafsirkan ayat-ayat Alquran.

"Sebab ketika ayat tersebut ditafsirkan oleh mufassir yang tidak punya ilmu sesuai dengan inspirasi keilmuan yang terdapat di dalam ayat ayat tersebut. Bagaimana pula dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan? Dan bagaimana kita bisa mengharapkan munculnya perubahan dan temuan temuan baru dari inspirasi Al-Qur'an," jelasnya.

Memang Kitab suci ini tidak akan dapat dipahami isi dan kandungan yang ada di dalamnya, tanpa jasa besar yang dilakukan para mufasir terdahulu karena mereka telah memiliki syarat syarat keilmuan sebagai seorang mufassir.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved