Breaking News:

Dituding Berikan Pelayanan Buruk Covid-19, RS Grand Med Dilaporkan karena Pasien Meninggal

Sementara itu pihak rumah sakit Grand Med membantah tidak melakukan perawatan pasien dengan baik. 

Penulis: Indra Gunawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/INDRA
RS Grand Med Lubukpakam yang berada di Lubukpakam Kabupaten Deliserdang.  

TRIBUN-MEDAN.com-DELISERDANG- Rumah Sakit Grand Med Lubukpakam Kabupaten Deliserdang dilaporkan ke Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi Sumatera Utara dan Dinas Kesehatan oleh salah satu keluarga pasien Covid-19 karena dituding memberikan pelayanan yang buruk terhadap pasien yang sedang menjalani isolasi di rumah sakit ini. 

Selain itu salah satu dokternya yakni dr Edwin Pakpahan, SpP selaku Dokter Penanggung Jawab Pasien (DPJP) juga dilaporkan ke Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Pusat. 

Baca juga: Maia Estianty Ungkap Alasan Tak Suka Buat Konten Pamer Kemewahan, Berikan Saran Ini ke Dinar Candy

Pelapornya adalah pihak Lokataru Law & Human Rights Office yang sudah mendapatkan kuasa dari keluarga pasien. 

Yubi selaku kuasa hukum keluarga pasien menceritakan pada 30 Juli lalu Biner Samosir dan Tiarasi Silalahi pasangan suami istri yang tinggal di Desa Buntu Bedimbar Kecamatan Tanjung Morawa terkonfirmasi positif Covid dan harus menjalani perawatan karena umur keduanya masuk dalam kategori lanjut usia.

Selain itu juga memiliki comorbid. Saat pertama kali masuk ke rumah sakit tanpa adanya keluhan gejala sesak nafas. 

"Keluhan umum pasien demam 38-39 derajat disertai batuk, mual dan muntah. Badannya lemas dan terasa sakit, kepala pusing. Saturasi Tiaras Silalahi mencapai 91-94 sedangkan Biner memiliki komorbid jantung koroner dan sudah pasang ring jantung,"ujar Yubi Jum,at, (20/8/2021)

Ia menyebut saat kedua pasutri itu menjalani isolasi di rumah sakit dokter dianggap tidak melakukan tugasnya dengan baik. 

Dokter disebut seperti hanya orang yang berkunjung tanpa melakukan pemeriksaan. 

Baca juga: Menko Airlangga: Belanda, Kanada dan UEA Komitmen Investasi di Indonesia

Dari komunikasi pasien dengan keluarga yang di rumah disebut mereka seperti macam numpang tidur saja. 

"Keluarga juga tidak bisa mendapatkan perkembangan kondisi orangtuanya di sana seperti apa sebenarnya. Jangan hanya isolasi dan tiba-tiba dikabari meninggal, harusnya kan diawasi dan disampaikan ke keluarga dan beri perkembangannya,"kata Yubi. 

Halaman
123
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved