Dinas Pertanian Karo Catat Adanya Penurunan Luas Tanaman Jeruk, Berikut Penyebabnya

Dirinya mengatakan, perbandingan antara tahun 2011 hingga tahun ini, jumlah areal pertanian jeruk juga tercat mengalami penurunan.

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Muhammad Nasrul
Seorang petani jeruk di Kecamatan Tigapanah, menunjukkan tanaman jeruknya yang rusak terpapar hama lalat buah, belum lama ini. 

TRIBUN-MEDAN.com, KARO - Dinas Pertanian dan Peternakan (Disternak) Kabupaten Karo, mencatat adanya penurunan jumlah luas pertanian jeruk dari tahun ke tahun.

Diketahui, penurunan areal lahan yang menjadi pertanian jeruk masyarakat ini, diketahui mulai turun secara perlahan selama kurang lebih 10 tahun terakhir.

Berdasarkan informasi yang didapat dari Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Karo Ir Matehsa K Purba, pihaknya mencatat selama kurang lebih 10 tahun terakhir jumlah hasil komoditi jeruk dari Kabupaten Karo cukup menurun.

Dirinya mengatakan, perbandingan antara tahun 2011 hingga tahun ini, jumlah areal pertanian jeruk juga tercat mengalami penurunan.

Baca juga: Pria Ditemukan Tewas di Dalam Rumah, Diduga Sudah Berhari-hari, Warga Curiga Cium Bau Tak Sedap

"Memang kita lihat ada penurunan luas areal tanaman jeruk. Di tahun 2011, kita catat luas areal pertanian jeruk 16.095 hektar, sementara untuk tahun ini luas lahannya menurun menjadi 6.014 hektar," ujar Matehsa, Selasa (24/8/2021).

Amatan www.tribun-medan.com, memang sejak beberapa waktu terakhir komoditas jeruk manis di berbagai lokasi penjualan terlihat cukup sepi.

Hal ini, diketahui berdasarkan keterangan dari para penjual jeruk yang mengaku jika akhir-akhir ini produksi jeruk cukup menurun.

Matehsa menjelaskan, dari 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Karo terdapat beberapa kecamatan yang tercatat sebelumnya menjadi lokasi persebaran lahan pertanian jeruk yang cukup luas.

Berdasarkan catatan yang ada, untuk lahan pertanian jeruk yang paling luas berada di Kecamatan Tigapanah dengan luas lahan 4.115 hektar.

Selanjutnya, luas lahan kedua berada di Kecamatan Barusjahe dengan total luas lahan 2.848 hektar.

Kemudian, Kecamatan Simpangempat menjadi kecamatan yang emak luas wilayah tanaman jeruk ketiga seluas 2.423 hektar.

Dan kecamatan terakhir yang memiliki komoditas jeruk cukup luas, berada di Kecamatan Munte dengan luas 2.062 hektare.

Baca juga: Rakor Bersama Menko Luhut, Wagub Ijeck Ajukan Penambahan Vaksin untuk Kabupaten Kawasan Danau Toba

"Untuk tahun ini, kita catat total luas lahan pertanian jeruk 6.014 hektar. Dari semua kecamatan, kita lihat hanya Kecamatan Munte yang cukup bertahan, dengan saat ini total luas wilayah seluas 2.002 hektar," ucapnya.

Ketika ditanya mengapa kondisi ini bisa terjadi, Matehsa menjelaskan jika hal tersebut disebabkan dengan adanya hama seperti lalat buah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved