Breaking News:

Tangani Banjir di Empat Aliran Sungai, Pemko Medan Siapkan Anggaran Rp 45 Miliar

Penanganan banjir di Medan harus dilakukan secara berkesinambungan. Baik dari penanganan sungai dan saluran drainase.

Penulis: Rechtin Hani Ritonga | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN MEDAN/RECHTIN RITONGA
WARGA terdampak banjir di Kecamatan Medan Maimun beberapa waktu lalu. Pemerintah Kota Medan menyiapkan anggaran sebesar Rp 45 miliar untuk penanganan banjir di Medan. (TRIBUN MEDAN/RECHTIN RITONGA) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Pemerintah Kota Medan menyiapkan anggaran sebesar Rp 45 miliar untuk penanganan banjir di Kota Medan. Wali Kota Medan Bobby Nasution mengatakan penanganan banjir akan dimulai dari pembenahan empat aliran sungai yakni Sungai Babura, Sungai Bedera, Sungai Deli dan Sunga Sulang Saling.

"Kami sudah siapkan anggaran di P-APBD, kemarin. Untuk penanganan banjir kita siapkan Rp 25 miliar plus 20 miliar untuk Sulang Saling. Jadi totalnya sudah ada Rp 45 miliar untuk sungainya saja," ujar Bobby, Rabu (25/8/2021).

"Jadi yang kemarin kita sempat ditantang mau enggak Pemko Medan siapkan anggaran khusus, ini langsung kami siapkan anggarannya," tambahnya.

Dikatakannya, penanganan banjir di Medan harus dilakukan secara berkesinambungan. Baik dari penanganan sungai dan saluran drainase.

"Penanganan banjir tidak bisa sporadis. Hal ini harus berkesinambungan, baik saluran drainase perkotaan, saluran sungai, ini harus kita kolaborasi dengan Balai Wilayah Sunga (BWS) dan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara," tuturnya.

Bobby mengatakan pada Minggu (22/8/) lalu Sungai Babura meluap dan menyebabkan ratusan rumah terendam banjir di Medan. "Kemarin, ketika subuh air naik di Sungai Babura. Paginya saya langsung koordinasi dengan BWS. Kita langsung komunikasi bagaimana penanganannya," katanya.

Saat ini, kata Bobby, pihaknya fokus pada penanganan tiga sungai yang sudah ditetapkan yakni Sungai Babura, Bedera, dan Deli. Namun, penanganan yang juga melibatkan BWS dan Pemprov Sumut ini baru akan dimulai awal tahun 2022.

"Memang karena kita minta tahun ini juga dan penganggarannya tidak bisa dipaksakan. Jadi tahun ini sudah mulai ditenderkan oleh BWS, namun pengerjaannya baru bisa dimulai tahun depan," katanya.

Bobby mengatakan, nantinya pintu air atau kanal akan difungsikan kembali sehingga mengurangi debit air yang masuk ke Sungai Deli. "Seperti di Pintu Air/Kanal, nanti akan diganti menjadi benar-benar buka tutup. Akibatnya adalah hutan kota kita dibuat kolam, karena nanti itu (hutan kota) akan terbanjiri," ucapnya.

"Supaya kanalnya berfungsi. Selama ini kan kanal itu kering saja. Airnya ditutup ke Sungai Deli dan kita alihkan ke kanal. Jadi intensitas air masuk ke Sungai Deli itu akan kita kurangi, begitu juga di Bedera dan Babura," pungkasnya.

Baca juga: Pemko Medan Siapkan Rp 45 Miliar untuk Penanganan Banjir di Empat Aliran Sungai

Empat Kecamatan Terendam
SEBELUMNYA, ratusan permukiman yang ada di empat kecamatan di Kota Medan terdampak banjir akibat luapan air Sungai Babura yang naik pada Minggu (22/8) malam. Empat kecamatan tersebut yakni Kecamatan Medan Johor, Kecamatan Medan Petisah, Kecamatan Medan Selayang dan Kecamatan Medan Maimun.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Medan Arjuna Sembiring mengatakan, lokasi yang terdampak luapan air Sungai Babura merupakan lokasi yang kerap terdampak setiap Sungai Babura meluap. “Memang empat kecamatan ini yang biasanya terendam," ujar Arjuna.

Dikatakannya, lokasi pengungsian hanya didirikan di Kecamatan Medan Johor yang terdampak cukup parah. "Untuk pengungsian hanya yang di Medan Johor. Warga yang terdampak kita ungsikan ke mesjid, tetapi paginya sudah kembali ke rumah,” terangnya.

Arjuna menyebutkan, masyarakat yang tinggal di daerah rawan banjir sudah cukup memahami cara mengantisipasi bencana tersebut. Diakuinya, warga di daerah rawan banjir sudah menyiapkan antisipasi seperti rumah yang sudah dibangun dua tingkat, dan menyimpan dokumen penting di tempat yang aman.

“Warga ini sebenarnya sudah bijak. Rata-rata rumahnya sudah dua lantai. Jadi artinya, begitu debit air sungai naik, mereka pindah ke atas. Dan mereka ini pun kalau kita evakuasi enggak mau karena merasa sudah punya tempat berteduh,” ujar Arjuna.(cr14/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved