Breaking News:

Peran 5.0 dalam Pemberdayaan Manusia 

Harus diakui bahwa semua unsur teknologi canggih pada gilirannya mempermudah manusia dalam melakukan dan mencapai suatu tujuan.

Editor: Ismail
Tribun Medan/HO
Lamirin, S.Pd., M.M., M.Pd.B 

Oleh: Lamirin, S.Pd., M.M., M.Pd.  

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Harus diakui bahwa semua unsur teknologi canggih pada gilirannya mempermudah manusia dalam melakukan dan mencapai suatu tujuan. Dengan menggunakan perangkat teknologi canggih, maka efisiensi dan efektifitas harus mewarnai segala aktivitas manusia. 

Harus diakui bahwa tata ekonomi dunia baru yang membawa angin memang ditiupkan oleh negara-negara maju. Bahkan, melalui berbagai tekanan, hampir semua negara yang sedang berkembang, termasuk Indonesia dipaksa menghirup udara 5.0 tersebut.

Artinya, memberikan peluang bagi individu-individu, institusi-institusi swasta untuk berkiprah tidak hanya di negaranya, melainkan juga di negara-negara lain. Arus 5.0 memungkinkan seorang pedagang Indonesia dengan leluasa melakukan kegiatan eksport dan import. Demikian halnya dengan seorang tenaga profesional Indonesia, tidak hanya dapat menjalankan profesinya di Indonesia, tetapi juga di mancanegara. 

Sebaliknya, seorang pedagang di negara lain dengan leluasa dapat pula melakukan kegiatan eksport import antara negaranya dengan Indonesia. Bahkan seorang tenaga profesional, seperti manajer dan dokter dapat pula melakukan aktivitas profesi/prakteknya di Indonesia. 

Lalu apa yang terjadi jika seandainya seorang dokter Indonesia membuka praktek di Wasington DC? Dan bagaimana pula seandainya seorang dokter Amerika membuka praktek di Medan? Kondisi dan nasib berbeda kemungkinan akan dialami oleh kedua dokter tersebut.

5.0 Meningkat

Salah satu konsekwensi logis dari 5.0 adalah meningkatnya nilai sumber daya manusia. Dengan 5.0, daya saing suatu negara bukan lagi ditentukan oleh kondisi geografis, termasuk kekayaan alamnya, tetapi justru lebih ditentukan oleh kualitas SDM-nya. Kondisi ini tentu berbeda dibandingkan dengan awal pertumbuhan negara-negara di dunia ini yang lebih banyak ditentukan oleh kondisi geografi dan kekayaan alamnya.

Dengan demikian, kuantitas penduduk yang tidak diikuti oleh kualitas andal justru akan menghambat kemajuan suatu negara. Justru kondisi seperti inilah yang sedang dialami oleh Indonesia saat ini. Kualitas sumber daya manusia yang tinggi pada gilirannya akan memperbesar peluang sekaligus memperkecil tantangan suatu negara dalam persaingan antar negara yang makin ketat pada dekade terakhir ini dan akan makin ketat lagi di masa mendatang. 

Selanjutnya, pasport menuju kualitas sumber daya manusia yang andal dalam menghadapi 5.0 adalah pendidikan, tegasnya dalam arti luas. Saya tekankan di sini pendidikan dalam arti luas, agar kita tidak terpusat pada jenjang pendidikan S1, S2, dan S3. Hal ini perlu menjadi pemikiran kritis semua pihak, karena sering kali izajah (jenjang pendidikan formal) yang dimiliki seseorang justru tidak mencerminkan keterampilannya. Hal ini menjadi salah satu dampak negatif rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia, dibandingkan dengan negara-negara lain, termasuk di kawasan ASEAN.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved