Breaking News:

Konsorsium Permampu Dorong Layanan dan Pendidikan Kesehatan Seksual dan Reproduksi

Tragedi pandemi Covid-19 ini semakin memperburuk kehidupan perempuan dan kelompok rentan lainnya di berbagai sektor kehidupan.

Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
Tribun Medan/ Nanda Rizka Nasution
BEBERAPA Komunitas dan Organisasi yang yang peduli terhadap kekerasan terhadap perempuan saat mengadakan puncak acara dalam peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Lapangan Merdeka, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Hampir dua tahun, Indonesia masih terus berjuang mengakhiri pandemi Covid-19. Berdasarkan data Satgas Covid-19 (covid.go.id) hingga tanggal 2 September 2021 telah mencapai 4.109.093 kasus sejak Maret 2020. Diantara 10 provinsi yang tertinggi kasus aktifnya, nomor 5 adalah Sumatera Utara dengan 182 kasus baru , nomor 8 Riau dengan 107 kasus baru, dan  nomor 9 Sumatera Barat dengan 88 kasus.

Tragedi pandemi Covid-19 ini semakin memperburuk kehidupan perempuan dan kelompok rentan lainnya di berbagai sektor kehidupan. Dalam Lokakarya virtual Konsorsium Permampu tanggal 31 Agustus yang dihadiri oleh 86 peserta (82 perempuan dan 6 laki-laki) perwakilan dari delapan provinsi di Sumatera, telah direview pelaksanaan Rencana Kerja 2020-2021 yang sangat dipengaruhi oleh pandemi Covid-19.

Koordinator Permampu, Dina Lumbantobing dalam keterangan persnya yang diterima Tribun-Medan.com, Minggu (5/9/2021) mengatakan, cukup banyak kisah penderitaan yang dialami oleh dampingan maupun sejumlah personel Permampu yang terpapar Covid-19, serta pengaruh pandemi terhadap tersendatnya pelaksanaan Rencana Kerja.

Secara khusus didiskusikan bagaimana perempuan dan anak perempuan kerap menjadi korban kekerasan seksual dan terabaikan pemenuhan hak kesehatan seksual bagi perempuan, khususnya anak perempuan dan perempuan muda, lansia dan perempuan disabilitas.

“Seluruh anggota Permampu melakukan pendampingan kepada perempuan korban kekerasan, dan mencatat peningkatan kasus-kasus kekerasan seksual,” kata Dina.

Dina menjelaskan, beberapa kasus yang terlaporkan antara lain di Bandar Lampung terjadi pelecehan seks yang dilakukan anak kelas 3 SD terhadap siswi kelas 2 SD. Di Kabupaten Pakpak Bharat/SUMUT, terjadi perkosaan terhadap anak perempuan berusia empat tahun yang dilakukan oleh teman dekat bapaknya sendiri. Sementara  di Padang Pariaman, seorang pembantu dipaksa oleh suaminya merekam pelecehan seks terhadap anak bayi majikannya.

“Kisah-kisah kekerasan seksual yang terungkap ini merupakan fenomena gunung es dari ratusan kasus kekerasan seksual yang terjadi. Korban kekerasaan seksual bukan hanya terjadi  dalam “lingkungan terdekat” dan dalam “rumah” yang selama ini kita anggap arena yang aman tetapi juga oleh pendidik bahkan oleh anak-anak. Dan korbannya adalah kelompok paling lemah yang seharusnya dilindungi oleh orang dewasa dan negara,” terang Dina.

Menurut Dina, kekerasan seksual mestinya dapat dicegah, dan negara seharusnya memenuhi kewajibannya dalam melindungi perempuan serta kelompok paling rentan melalui pemenuhan Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Perempuan, khususnya perlindungan perempuan dan kelompok rentan dari kekerasan seksual.

Konsorsium Permampu yang fokus dalam Penguatan HKSR Perempuan di Pulau Sumatera telah turut mendorong upaya pemenuhan HKSR Perempuan melalui pengorganisasian perempuan akar rumput dan keluarga, telah mengembangkan inovasi melalui One Stop Service & Learning (integrasi layanan kesehatan reproduksi dan penangananan kekerasan terhadap perempuan), serta memberikan masukan bagi Pemerintah Daerah dalam menyusun kebijakan publik yang berperspektif gender.

Selain itu Konsorsium Permampu melakukan pendidikan kritis kepada dampingan dan keluarganya agar menyadari kesehatan seksualitas dan reproduksi sejak dini di dalam keluarga.

Baca juga: Dua Tahun Terakhir, Kasus Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Toba Naik hingga 300 Persen

Dina mengatakan, dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Seksual (HKS) sedunia pada 4 September 2021, Konsorsium Permampu mengingatkan semua pihak agar memberi perhatian kepada pendidikan keluarga sebagai pondasi bangsa.

Berangkat dari keprihatinan di atas, Konsorsium Permampu menyatakan menghimbau seluruh orangtua, orang dewasa dan keluarganya agar membiasakan melakukan pendidikan ketubuhan dan kesehatan reproduksi atau yang umum disebut sebagai pendidikan seks yang komprehensif, sejak dini, mendesak megara untuk mensyahkan UU Penghapusan Kekerasan Seksual, dan mendorong Kementerian Kesehatan agar meningkatkan kualitas pendidikan dan pelayanan kesehatan seksual dan reproduksi perempuan di berbagai tingkat pelayanan kesehatan.

Selain itu mendorong Kementerian Pendidikan Nasional untuk mengembangkan kebijakan pendidikan non formal dan pembelajaran seumur hidup yang berperspektif gender berbasis keluarga untuk mewujudkan keluarga sejahtera dan tanpa kekerasan.

“Layanan dan pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi adalah hak perempuan dan seluruh WNI yang harus dipenuhi oleh negara,” pungkasnya.(*/top/Tribun-Medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved