Breaking News:

News Video

Pedagang Pecel di Kota Binjai Hampir Terkena Serang Jantung Ditagih Pajak Rp 3 Juta

Nur yang sudah berjualan Pecel selama 32 tahun ini, kali pertama mendapatkan tagihan pajak restoran dari pemerintah.

Penulis: Satia | Editor: Ade Saputra

Pedagang Pecel di Kota Binjai Hampir Terkena Serang Jantung Ditagih Pajak Rp 3 Juta

TRIBUN-MEDAN.COM, BINJAI - Nur (52), pedagang Pecel, di Jalan Wahidin, Kecamatan Binjai Timur, Kota Binjai hampir terkena serangan jantung, melihat tagihan pajak restoran dari pemerintah.

Dirinya mengaku terkejut melihat tagihan pajak restoran yang harus dibayarkan kepada pemerintah mencapai Rp 3 juta.

"Hampir saya terkena serangan jantung mendegar adanya tagihan pajak yang harus dibayarkan kepada pemerintah," katanya, saat ditemui di tempat jualannya, Senin (6/9/2021).

Nur yang sudah berjualan Pecel selama 32 tahun ini, kali pertama mendapatkan tagihan pajak restoran dari pemerintah. Walaupun, ia berjualan di tempat bangunan semi permanen yang berdindingkan kayu.

Dua tahun lalu, katanya sempat ada penagihan pajak yang dilakukan. Namun, jumlah iuran yang diterapkan tidak menyiksa rakyat.

"Dua tahun lalu ada tagihan, tapi hanya empat ribu sebulan yang ditagih. Tapi tidak dengan sekarang, pemerintah kok malah menyiksa masyarakat," ungkapnya.

Untuk saat ini, pendaptanya dari berjualan pecel, hanya mampu menghidup kebutuhan sehari-hari, lantaran dampak pandemi Covid-19. Jika harus membayarakan Rp 100 ribu perhari, Nur mengaku tidak sanggup.

"Sekarang malahan kita harus membayarkan tagihan segitu banyak. dari mana aku dapat uang untuk bayarnya," jelasnya.

Ia juga heran kepada Pemerintah Kota Binjai, di mana memberikan surat tagihan baru dilakukan sosialisasi kepada rakyat. Seharusnya, jika mau memberlakukan pajak restoran kepada pemerintah, sebaiknya diberitahukan terlebih dahulu.

"Kemarin disuruh datang ke gor untuk mendengarkan sosialisasi, tapi saya tidak datang karena sakit," ucapnya.

Kemudian, Nur berharap kepada pemerintah tidak dulu memberlakukan penagihan pajak restoran ke pedagang. Karena, saat ini seluruh masyarakat sudah terpuruk akibat dampak pandemi. Untuk hidup saja, dirinya harus mempertaruhkan nyawa, lantaran kondisi kesehatan yang terus menurun.

"Untuk saat ini maunya jangan dikutip dulu lah pajak itu, karena masyarakat sudah menderita ditambah lagi pemerintah mengutip pajak," ungkapnya.

Bukan menolak membayarkan pajak, lanjutnya bila pemerintah memberikan keringan kepada pedagang, pasti seluruhnya akan mengikuti aturan yang ada.

"Kalau tidak memberatkan masyarakat tidak apa-apa lah. Ini kami sudah sangat terpuruk," ungkapnya.

(wen/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved