Breaking News:

Walikota Tanjungbalai M Syahrial Mengaku Jadi Korban dan Diperas Penyidik KPK

Wali Kota Tanjungbalai nonaktif Muhammad Syahrial menganggap dirinya sebagai korban dari mantan penyidik KPK Stepanus Robinson dan pengacara Maskur.

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA TARIGAN
Wali Kota Tanjungbalai nonaktif Muhammad Syahrial saat menyampaikan Pledoi (nota pembelaan) dalam sidang di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (6/9/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Wali Kota Tanjungbalai nonaktif Muhammad Syahrial menganggap dirinya sebagai korban dari mantan penyidik KPK Stepanus Robinson dan pengacara Maskur Husain.

Syahrial menyerahkan uang sebesar Rp 1,6 miliar kepada Stepanus dan Maskur Husain agar dapat menangani kasus jual beli jabatan di Pemko Tanjungbalai yang membelit dirinya.

"Saya merasa sebagai korban janji manis Stepanus dan Maskur Husain, yang menjanjikan supaya proses kasus jual beli jabatan tahun 2019 yang sedang ditangani KPK tidak naik ke penyidikan."

"Apa yang telah dijanjikan Stepanus dan Maskur kepada saya tidak ada satupun yang terealisasi, saya sungguh merasa kecewa, tertipu dan diperas, oleh Stepanus," katanya saat menyampaikan Pledoi (nota pembelaan) dalam sidang di Pengadilan Tipikor Medan, Senin (6/9/2021).

Dalam persidangan yang digelar secara daring tersebut, Syahrial mengakui dan menyesali perbuatannya telah menyerahkan uang ke Stepanus, dengan harapan agar kasus Jual Beli jabatan dapat dihentikan penyidikannya oleh KPK.

"Saya mengakui dan menyesali perbuatan saya sebagai Wali Kota Tanjungbalai, yang memberikan sejumlah uang ke stepanus dan maskur sebesar Rp 1,6 miliar. Saya juga menyampaikan permohonan maaf ke warga Tanjungbalai atas kekhilafan yang saya lakukan," ucapnya.

Dalam sidang tersebut, Syahrial memohon kepada majelis hakim yang diketuai Asad Lubis agar meringankan hukumannya.

"Saya sudah memberikan kesaksian ke dewas (Dewan Pengawas) KPK tentang Lili Pintauli Siregar, saya sudah mberikan kesaksian tentang jual beli jabatan yang menyeret Yusmada, sikap kooperatif saya semoga dapat menjadi pertimbangan mendapat keringanan hukuman Majelis Hakim," katanya.

Dalam sidang tersebut, Syahrial juga memohon kepada Majelis Hakim agar dapat dipindahkan ke Lapas Tanjung Gusta Medan.

"Saya mohon memindahkankan saya ke Lapas Tanjung Gusta, istri saya baru selesai melahirkan operasi Yang Mulia," pungkasnya.

Diketahui sebelumnya dalam dakwaan Jaksa penuntut umum (JPU) KPK Budi Sarumpaet, membeberkan bahwa terdakwa Syahrial diadili perkara suap sebesar Rp 1,6 Miliar kepada Eks penyidik KPK, Stepanus Robinson Pattujulu.  

Pada Oktober 2020, Syahrial yang juga kader Partai Golkar itu berkunjung ke rumah dinas Muhammad Azis Syamsudin selaku Wakil Ketua DPR RI yang juga merupakan petinggi Partai Golkar.

Lalu Azis Syamsudin mengenalkan Stepanus Robinson Pattuju dan  membeberkan terkait kasus jual beli jabatan di Pemerintahan Kota Tanjungbalai, yang sedang ditangani oleh KPK. Syahrial pun meminta tolong agar kasus tersebut tidak naik ke penyidikan.

Stepanus pun bersedia membantu bersama rekannya Maskur. Maskur yang seorang advokat itu  menyanggupi untuk membantu pengurusan perkara tersebut asalkan ada dananya sebesar Rp1,5 miliar.(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved