Breaking News:

Dokter Kristinus Saragih Mengaku Sempat Tolak Tawaran Jual Vaksin Covid-19

Dokter Kristinus Saragih mengaku sempat menolak ajakan terdakwa lain, Selviwaty, untuk memvaksin teman-temannya.

Penulis: Gita Nadia Putri br Tarigan | Editor: Liston Damanik
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA TARIGAN
Dokter Kristinus Saragih (kanan) mengikuti sidang perkara dugaan jual beli vaksin Covid-19 yang digelar di Pengadilan Negeri Medan secara online, Rabu (15/9/2021). 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Dokter Kristinus Saragih yang diseret ke pengadilan karena menjual vaksin Covid-19 mengaku sempat menolak ajakan terdakwa lain, Selviwaty, untuk memvaksin teman-temannya dengan sejumlah bayaran.

Ia mengaku akhirnya termakan bujukan Selvi yang menjelaskan bahwa teman- temannya sangat khawatir akan ancaman Covid-19.

Pernyataan itu diungkapkan terdakwa dr Kristinus melalui kuasa hukumnya, Andy Lumban Gaol, SH, Mekida Marbun, SH, dan Huttal Pailohot Lumbanbatu, SH saat membacakan nota keberatan (eksepsi) dalam sidang dugaan jual beli vaksin ilegal di Pengadilan Tipikor Medan, Rabu (15/9/2021).

"Awalnya, terdakwa menolak ajakan  Selviwaty untuk memvaksin teman-temannya dan menyarankan ditunggu saja gilirannya. Akan tetapi Selviwaty berupaya membujuk Terdakwa dengan menyatakan  bahwa temannya sangat mendesak dan khawatir akan ancaman Covid-19 yang semakin mencekam di Kota Medan dan tidak tahu kapan waktu yang jelas giliran mereka akan divaksin," katanya.

Ia mengatakan latar belakang terjadinya kasus ini karena pandemi Covid-19 yang membuat masyarakat ketakutan karena kekurangan vaksin pada awalnya.

"Sehingga Pemerintah membuat peraturan yang mengatur bahwa masyarakat yang didahulukan  untuk divaksin adalah Tenaga kesehatan  Instansi pelayanan masyarakat, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Guru dan Lansia, dengan perkataan lain bahwa tidak menerapkan seluruh masyarakat dapat divaksin secara bersamaan atau masih harus menunggu giliran berikutnya," ucapnya.

Bahwa kelompok masyarakat yang tidak termasuk didahulukan tersebut, katanya  sangat khawatir akan dahsyatnya ancaman Covid-19 tersebut, sehingga mereka mencari upaya untuk dapat divaksin lebih cepat karena kalau menunggu giliran dari Pemerintah tidak jelas jadwalnya yang bersangkutan dapat divaksin.

"Tiba-tiba Selvi meminta tolong dr. Kristinus untuk memvaksin teman-temannya yang sangat khawatir ancaman Covid 19 di Kota Medan," bebernya.

Selain itu katanya, adapun alasan-alasan pihaknya mengajukan Eksepsi atas surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum, bahwa jumlah orang yang divaksin yang mencuat di publik tidak cermat, tidak lengkap dan tidak jelas.

Dikatakannya, bahwa uraian setiap Dakwaan JPU yang tertera dalam pelaksanaan Vaksin tertanggal 17 April 2021 yang dilaksanakan di Club House Citraland Bagya City. Dikatakannya Terdakwa tidak pernah melakukan vaksinasi di lokasi tersebut.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved