Breaking News:

Pedagang Pajak Lama Perbaungan Menolak Direlokasi dan Pilih Menetap

Sejumlah pedagang Pajak Lama Perbaungan tidak mau direlokasi dan memilih menetap berjualan di tempat yang lama

Penulis: Muhammad Anil Rasyid | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/M ANIL RASYID
Ratusan kios di Pajak Lama Perbaungan, Kelurahan Simpang Tiga Perbaungan, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai) ludes terbakar, Kamis (16/9/2021) sekira pukul 06.00 WIB.(TRIBUN MEDAN/M ANIL RASYID) 

TRIBUN-MEDAN.COM,SERGAI - Pedagang Pajak Lama Perbaungan menolak untuk direlokasi pascakebakaran beberapa waktu lalu.  

Amatan www.tribun-medan.com di Pajak Lama Perbaungan Jalan Deli, Kelurahan Simpang Tiga Pekan, Kecamatan Perbaungan, tampak beberapa plang terpasang di dinding bekas kios yang terbakar.

Adapun plang tersebut bertuliskan "Kami Para Pedagang Tidak Mau Diusir Dari Pajak Ini".

"Gimana kami mau direlokasi ke Pajak Baru Perbaungan, sedangkan pedagang yang berada di Pajak Baru masih kekurangan tempat," ujar Butet Lubis, pedagang Pajak Lama Perbaungan saat ditemui setelah melakukan mediasi di kantor Camat Perbaungan, Kamis (23/9/2021).

Baca juga: Pedagang Pajak Lama Perbaungan Tolak Pemasangan Pagar Seng oleh Dinas PUPR Sergai

Butet Lubis mengatakan, ia melihat ada kejanggalan di masa pemerintahan Bupati Darma Wijaya.

Terlebih, Pemkab Sergai sama sekali tidak ada mengajak pedagang melakukan dialog. 

"Pertama, tidak ada koordinasi dengan kami para pedagang. Kejanggalannya gini, kami datang ke anggota dewan, mereka tidak ada koordinasi. Bahkan hari ini mediasi juga tidak melibatkan anggota dewan," ujar Butet.

"Intinya kami tidak mau dipindahkan ke pajak baru. Kami hanya mau di tempat kami semula, tidak mau ditempatkan di pasar baru Perbaungan," sambungnya.

Lanjut wanita yang merupakan pedagang umbi-umbian di Pajak Lama Perbaungan ini, kenapa para pedagang tidak mau direlokasi ke Pajak Baru Perbaungan lantaran di lokasi yang baru itu pedagang buka lapak mulai pukul 03.00 WIB dan tutup pukul 07.00 WIB.

Baca juga: Kisah Pedagang di Pajak Lama Perbaungan Ceritakan Kiosnya Ludes Terbakar dan Rugi Ratusan Juta

"Karena Pajak Baru itu pasar induk. Sedangkan kami pedagang di Pajak Lama Perbaungan ini, pedagang kecil. Dari zamannya bapak ibu saya, pajak lama itulah pajak. Tidak bisa didapat pemerintah sejak zamannya Pak Maimaran (Bupati Deliserdang) sewaktu Serdangbedagai pemekeran," ujar Butet.

Relokasi pedagang Pajak Lama Perbaungan tidak baru kali ini terjadi.

Di tahun 1994 sudah pernah terjadi pemindahan.

"Relokasi pada waktu itu bedanya di zaman Pak Maimaran, disediakan pajak untuk relokasi. Malah sekarang ini, mau relokasi tidak disediakan pasarnya. Kami sudah mencoba ke Pajak Baru Perbaungan, enggak sanggup, ada yang bertahan satu hari, ada yang bertahan sebulan, dan yang paling lama dua tahun. Permasalahan di Pajak Baru itu bukanya jam 03.00 WIB pagi dini hari," ujar Butet.

Baca juga: Sebanyak 180 Kios dan Enam Ruko Terbakar di Pajak Lama Perbaungan, Kerugian Mencapai Rp 15 Miliar

Lagian di Pajak Baru, Butet menambahkan rata-rata grosir, sedangkan ia bersama pedagang lainnya biasa malah ambil barang dagangan dari Pajak Baru.

"Kami ambil barang dagangan di situ, masa inu jual disitu juga, ya kami enggak ada untung, intinya kami tetap menolak untuk di relokasi," ujar Butet. (cr23/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved