Breaking News:

SANTRI Mengeluh Sakit Bagian Intim, Fakta Baru 26 Korban Pelecehan di Ponpes, Anggota DPR Meradang

Pelaku pelecehan adalah JN berusia 22 tahun. JN merupakan pengasuh sekaligus pengajar ponpes itu tega melecehkan para santrinya.

Editor: Salomo Tarigan
Kolase Tribunnews.com: TribunSumsel/Shinta
Tersangka JN terlibat pelecehan 26 santri saat berada di Polda Sumsel 

TRIBUN-MEDAN.com - Kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan pondok pesantren (ponpes) di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan (Sumsel) membuat anggota Badan Legislasi (Baleg) DPR Taufik Basari gregetan, karena korbannya mencapai 26 santri di bawah umur.

"Inilah mengapa RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) ini perlu disahkan. Karena kekerasan seksual kadang terjadi di dalam orang terdekat, karena itu harus dibangun kesadaran untuk melakukan pencegahan sekaligus mekanisme perlindungan kepada korban," kata Taufik Basari dalam keterangan tertulisnya, Jumat (24/9/2021).

Pelaku pelecehan adalah JN berusia 22 tahun. JN merupakan pengasuh sekaligus pengajar ponpes itu tega melecehkan para santrinya.

Hingga kini, sudah ada 26 korban berumur 12 hingga 13 tahun yang mengaku dilecehkan JN.

Taufik meyakini para korban mengalami trauma yang berkelanjutan.

Oleh karena itulah, maka peristiwa ini menjadi pendorong untuk membahas dan mengesahkan RUU TPKS.

Anggota Komisi III DPR ini menjelaskan, salah satu poin yang didorong dalam RUU TPKS ini adalah pemberatan hukuman kepada pelaku-pelaku yang merupakan pihak yang diberikan tanggungjawab untuk melindungi orang lain seperti guru.

"Kalau di pesantren itu musyrif atau pengasuh kamar, guru agama, orang tuanya dan orang terdekat," jelasnya.

Karena, lanjut Taufik, kekerasan seksual itu terjadi karena adanya ketimpangan relasi kuasa.

Relasi kuasa dalam kekerasan seksual merupakan unsur yang dipengaruhi oleh kekuasaan pelaku atas ketidakberdayaan korban.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved