Breaking News:

Sejarah Kampung Tigarihit, Ternyata Sempat Jadi Incaran Belanda Pada Zaman Kolonial

Cikal bakal perpindahan warga Tigarihit kala itu (dari lokasi saat ini hotel Atsari ke Paradiso coffee shop) karena Belanda Berhasil menguasai wilayah

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
HO
Kampung warna-warni Tigarihit saat di malam hari.  

TRIBUN-MEDAN.com, PARAPAT - Kampung Tigarihit ternyata memiliki cerita sejak masa kolonial. Dikisahkan bahwa kawat ini telah menjadi incaran penjajah Belanda karena keindahan lokasi tersebut. 

Dikisahkan, awalnya Ompu Raja M Sinaga bermukim di tepi Pantai yang bernama Tigarihit. Dari sisi nama, Tiga artinya lokasi berjualan atau pekan tradisional sedangkan Rihit adalah pasir.

Dari namanya, dapat diartikan pekan tradisional di pasir atau pinggir pantai Danau Toba. 

Baca juga: Kabupaten Samosir Dinyatakan PPKM Level 2, Edy Rahmayadi Minta Ini ke Semua Kepala Desa

Disebutkan, Tigarihit memiliki dua fungsi; lokasi penambangan pasir dan juga tempat pekan tradisional untuk melakukan perdagangan secara barter maka dianggap menjadi kawasan strategis pada zaman itu.

"Sehingga pada masa penjajahan Belanda kala itu Sekitar tahun 1878, mulai masuk ke tanah batak salah satu wilayah kekuasaannya adalah Parapat, maka Komandan pasukan belanda berambisi menguasai wilayah Tigarihit untuk membangun tempat tinggal pasukannnya atau mess," ujar B Sinaga sebagai keturunan Raja M Sinaga. 

"Namun pasukan Belanda mendapat perlawanan kerajaan batak pada masa itu yang dipimpin oleh Raja Sisingamangaraja XII dan juga dari Raja M Sinaga yang tinggal di wilayah Tigarihit," sambungnya. 

Namun tak berlangsung lama Belanda dengan pasukan khususnya berhasil menguasai Tigarihit dengan berbagai cara dilakukan agar wilayah tersebut menjadi daerah kekuasaannya sehingga warga berhasil diusir dengan membakar rumah di wilayah tersebut.

Cikal bakal perpindahan warga Tigarihit kala itu (dari lokasi saat ini hotel Atsari ke Paradiso coffee shop) karena Belanda Berhasil menguasai wilayah itu sehingga memaksa Raja M Sinaga, pemilik lahan wilayah Tigarihit meninggalkan kampung itu dan pindah bermukim ke Bangun Dolok.

Namun tidak berlangsung lama Raja M Sinaga berada di Bangun Dolok. Raja M Sinaga kembali pindah dan bermukim di Robean (yang artinya ladang) yang saat ini lebih dikenal kampung warna warni Tigarihit, sehinga Ompu M Sinaga berhasil meneruskan generasi dan beranak cucu hingga sekarang.

Baca juga: Resep Pepes Telur Asin dan Cara Membuatnya, Menu dengan Rasa yang Begitu Sempurna

"Sebenarnya Tigarihit adalah tempat pekan dan pasar tradisional masa dulu yang sekarang Atsari hotel hingga warung Paradiso, sedangkan Tigarihit yang sekarang adalah teradopsinya nama kampung sebelumnya terhadap opung dan keturunannya yang tinggal di wilayah Robean/Ladang saat itu (sekarang red : kampung warna warni Tigarihit)," tuturnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved