Breaking News:

22.450 Rumah Tangga di Sumut Ikuti Survei Sitasi oleh BPS

Dijelaskan Parwoto, saat ini cakupan wilayah Sitasi di 34 provinsi di Indonesia, dengan 513 kabupaten/kota, selain kota Jakarta Pusat dan DKI Jakarta.

Penulis: Kartika Sari | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/ KARTIKA
KF Statistik Produksi BPS Sumut Dwi Prawoto saat memaparkan materi dalam acara workshop Wartawan dalam Pembinaan dan Ekspose Data Sosial Ekonomi Sumut 2021 di Lubuk Pakam, Rabu (29/9/2021). 

TRIBUN-MEDAM.com, MEDAN - Pertanian di Sumatera Utara turut diikutkan dalam Survei Pertanian Terintegrasi (Sitasi) oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang saat ini sedang berjalan.

"Sudah berjalan dan saat ini sedang proses updating," ungkap KF Statistik Produksi BPS Sumut Dwi Prawoto, Rabu (29/9).

Dijelaskan Parwoto, saat ini cakupan wilayah Sitasi di 34 provinsi di Indonesia, dengan 513 kabupaten/kota, selain kota Jakarta Pusat dan DKI Jakarta.

"Sitasi ini akan terlaksana di semua kabupaten/kota di Sumut sekitar 22.450 rumah tangga usaha pertanian di 33 kabupaten/kota. Terutama di wilayah dengan banyak usaha pertanian," ujarnya.

Sementara itu, untuk proses perluasan sampel, BPS akan kembali survei mulai 22 Oktober sampai 23 November.

Baca juga: Validkan Data, BPS Sumut Akan Gelar Sensus UMKM Tahun Depan 

Ada pun untuk pengumpulan data SITASI ini, BPS akan melakukan dengan moda CAPI atau pengumpulan data dengan menggunakan handphone dan PAPI secara konvensional dengan menggunakan kertas.

"Kita tetap menggunakan PAPI lantaran belum semua survei bisa secara digital dengan kendala sinyal. Kita perkirakan hanya 9 kabupaten/kota yang bisa CAPI di Sumut," kata Prawoto.

Terkait Survei Sitasi ini, Prawoto menuturkan jika program ini dilaksanakan untuk adanya keseragaman dalam metodologi pengumpulan data pertanian secara internasional.

Selain itu untuk memenuhi kebutuhan data pertanian, BPS akan melakukan Minimum Set of Core Data (Global Strategy), memenuhi kebutuhan data untuk perencanaan kebijakan pemerintah dalam pembangunan pertanian, memenuhi kebutuhan data pertanian untuk keperluan penelitian, dan membantu memonitor SDGs dengan menyediakan data semaksimal mungkin yang selama ini belum dapat tersedia oleh BPS dan Kementerian/Lembaga dan Estimasi pada level provinsi dan kab/kota.

"Sitasi ini meletakkan dasar sistem statistik pertanian yang efisien dan agar memungkinkan secara berkelanjutan pada setiap negara," pungkasnya.

Nantinya, pembangunan wilayah pedesaan dari program Sitasi ini dapat terevaluasi dan termonitor untuk perkembangan desa secara lengkap, cepat, dan akurat.

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved