Breaking News:

TRIBUNWIKI

Mengenal Ulos Batak Sebagai Simbol dalam Tradisi, Dijadikan Pakaian dan Penghangat Tubuh

Ada ungkapan Batak dalam pandangan filosofisnya berbuyi: Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/MAURITS
Produksi ulos yang ada di Desa Hutaraja, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir.  

TRIBUN-MEDAN.com, TOBA - Simbol bukanlah sesuatu yang asing lagi bagi masyarakat Batak Toba.

Simbol merupakan sesuatu yang dimiliki manusia sebagi mahluk yang religius.

Simbol dapat dilihat dalam berbagai kategori, yakni: barang, tempat, benda, angka atau ritus-ritus yang menggunakan sesuatu dari alam. 

Baca juga: Intip Biaya Sekolah Lima Anak Artis Ini, Ada yang Mencapai Ratusan Juta Per Semester

Satu diantara symbol yang dikenal dalam masyarakat Batak Toba adalah ulos.

Dari informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber, ulos (kain khas tenunan batak berbentuk selendang) digunakan untuk menghangatkan badan, yang kerap digunakan pada zaman dahulu sebagai pakaian. 

Ada ungkapan Batak dalam pandangan filosofisnya berbuyi: Ijuk pangihot ni hodong, Ulos pangihot ni holong.

Ijuk adalah pengikat pelepah pada batangnya dan Ulos ialah pengikat kasih sayang antara orang tua dengan anaknya atau seseorang dengan orang lain. 

Menurut pandangan orang Batak, ada tiga unsur yang esensial untuk dapat hidup, yakni: darah, napas dan kehangatan (panas).

Baca juga: Asyiknya Berwisata Sambil Memetik Jeruk Serasa Kebun Pribadi di Karo

Panas Matahari tidaklah cukup untuk memanaskan badan pada daerah pegunungan, maka perlu ulos sebagai penghangat badan.

Fungsi ulos untuk menghangatkan badan dan membuat kegembiraan dan sukaria. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved