Breaking News:

800 Pelajar Putus Sekolah Pilih Nikah, Pakar Psikolog: Harus Ada Edukasi

800 pelajar lebih pilih menikah ketimbang melanjutkan sekolah daring. Pakar psikolog pun angkat bicara soal masalah itu

Penulis: anisa rahmadani | Editor: Array A Argus
Tribun Medan / Dedi Sinuhaji
Para pelajar SMA saling mencoret seragam sekolah sebagai bentuk luapan kegembiraan usai melaksanakan Ujian Nasional hari terakhir di Medan, Sumut, Rabu (15/4/2015). Walau sejumlah sekolah di Medan mengeluarkan larangan adanya coret seragam, aksi tersebut tetap dilakukan para pelajar diluar sekolah karena sudah menjadi tradisi setiap tahunnya sebagai bentuk ekspresi kegembiraan usai menjalani Ujian Nasional. Tribun Medan/Dedy Sinuhaji 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN-Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Sumut, Syaifuddin sempat mengatakan ada 800 pelajar di Sumut yang lebih memilih berhenti sekolah dan memutuskan untuk menikah. 

Menanggapi hal itu, Psikolog Irna Minauli mengatakan kondisi seperti ini sangatlah memprihatinkan.

Sebab, menurutnya, pembelajaran secara daring itu berdampak panjang terhadap kondisi psikologis sosial anak-anak.

Diterangkan Irna, berdasarkan data-data yang dikumpulkan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kebanyakan yang putus sekolah itu memang lebih memilih menikah dan bekerja.

Baca juga: 800 Pelajar di Sumatera Utara Pilih Berhenti Sekolah dan Menikah Muda

"Berdasarkan data KPAI banyak siswa yang putus sekolah karena lebih memilih menikah dan bekerja dibanding sekolah secara daring," ucapnya, Jumat (1/10/2021).

Namun, menurut Irna, ada juga karena faktor lain, seperti kecanduan games, sehingga mereka tidak pernah hadir dan memberikan tugas yang diberikan sekolahnya.

“Dampak pandemi terhadap terjadinya peningkatan angka putus sekolah sangatlah memprihatinkan. Jika diamati, maka putus sekolah ini dialami oleh banyak negara, terutama di negara-negara miskin (kurang berkembang), under developed, Indonesia tampaknya menjadi salah satu yang merasakan dampaknya,” paparnya.

Irna menyebutkan, penelitian yang dilakukan UNICEF pada tahun 2020 juga menunjukkan bahwa mayoritas yang putus sekolah disebabkan karena tidak adanya biaya dan dilanjutkan dengan mereka yang tidak mau sekolah.

Namun, berdasarkan penelitian yang dilakukan Center of Global Development, mereka yang putus sekolah kebanyakan adalah siswa yang miskin, berasal dari sekolah negeri, tinggal di daerah pinggiran dan yang menarik adalah kebanyakan yang putus sekolah adalah anak laki-laki.

Baca juga: Emak-emak dan Dua Pelajar yang Gebuki Anggota TNI AD Karena Uang Parkir Dituntut 3 Tahun

“KPAI mengindikasikan bahwa kebanyakan kasus di Indonesia karena anak kemudian bekerja atau menikah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved