Breaking News:

Curangi Pengisian BBM, Direktur SPBU Jalan Gagak Hitam Hanya Dijatuhi Hukuman Bayar Denda Sejuta

Nety Saleh (59) hanya dijatuhi hukuman denda Rp 1 juta oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan

TRIBUN MEDAN/GITA 
Terbukti curangi pengisian bahan bakar minyak (BBM), Direktur SPBU 14.201.138, Jalan Gagak Hitam, Medan Nety Saleh (59) hanya dijatuhi hukuman denda Rp 1 juta oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (13/10/2021) 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Terbukti curangi pengisian bahan bakar minyak (BBM), Direktur SPBU 14.201.138, Jalan Gagak Hitam, Medan Nety Saleh (59) hanya dijatuhi hukuman denda Rp 1 juta oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (13/10/2021)

Dalam amar putusan hakim, terdakwa Nety Saleh dinyatakan terbukti bersalah melakukan kecurangan pengisian BBM, sebagaimana Pasal 32 ayat (1) jo Pasal 25 huruf c atau e jo Pasal 34 ayat (1) UU No 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. 

"Menjatuhkan terdakwa Nety Saleh oleh karenanya dengan membayar denda Rp 1 juta, apabila tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 2 bulan," ujar Safril. 

Baca juga: Broderhood, Band Asal Medan, Dedikasikan Lagu Untuk Badak Sumatera yang Terancam Punah

Dalam pertimbangannya, majelis hakim menilai perbuatan terdakwa telah merugikan masyarakat. 

"Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa bersikap sopan dipersidangan," ucapnya. 

Atas putusan tersebut, majelis hakim memberikan waktu 7 hari kepada terdakwa maupun jaksa penuntut umum (JPU) Maria FR Tarigan untuk menyatakan terima atau mengajukan banding. 

Vonis hakim sama dengan tuntutan JPU, yang semula menuntut membayar denda. 

Sementara itu, dalam dakwaan Jaksa menyebutkan pada 14 Januari 2019 dua pengawas kemetrologian dari Direktorat Metrologi dan 2 petugas dari Balai Standardisasi Metrologi Legal Regional I berdasarkan Surat Perintah Tugas dari Balai Standardisasi Metrologi Legal Regional I, serta 2 petugas dari Dinas Perdagangan Kota Medan, melakukan kegiatan pengawasan UTTP dan Satuan Ukuran di wilayah Kota Medan.

Lebih lanjut, saksi kemudian melakukan pengawasan di tempat tersebut dan melihat ada 5 unit Pompa Ukur BBM (PUBBM) dalam keadaan aktif ataupun sedang digunakan oleh SPBU untuk penyerahan BBM ke konsumen. Selanjutnya, para saksi melakukan pemeriksaan terhadap 5 unit PUBBM. 

"Dari hasil pemeriksaan ditemukan 3 unit pompa ukur BBM ditemukan tanda perlengkapan teranya rusak dan tidak memiliki segel tanda tera jaminan," kata Jaksa.

Bahwa tanda tera yang telah terpasang pada Pompa Ukur Bahan Bakar Minyak (PUBBM) tidak dapat rusak atau putus tanpa ada campur tangan atau intervensi dari manusia karena tanda tera tersebut terbuat dari kawat besi dan plombir timah.

Baca juga: Materi Belajar Ekonomi Siswa: Pengertian Impor dan Manfaatnya

Selanjutnya, para saksi melakukan pengamanan dengan cara membubuhkan segel metrologi pada 5 unit nozzle yaitu, 1 unit nozzle dengan jenis BBM solar pada PUBBM merek Gilbarco Tipe NA2Nomor Seri ASEN119132. 

Kemudian, 2 unit nozzle dengan jenis BBM solar pada PUBBM merek Gilbarco Tipe NA2Nomor Seri ASEN119143.2 dua unit nozzle dengan jenis BBM solar pada PUBBM merek Gilbarco Tipe NA2Nomor Seri ASEN11914.

Dengan ditemukannya PUBBM yang tidak memiliki adanya tanda jaminan yang dipasang pada badan ukur, yaitu bagian-bagian meter yang harus dilindungi dari perubahan maka terdakwa selaku Dirut PT Tiga Dua Satu SPBU No 14.201.138 bertanggung jawab atas perbuatan kejahatan atau pelanggaran yang terjadi SPBU milik terdakwa. 

(cr21/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved