Breaking News:

Workshop Jurnalistik

Bagaimana Bisnis Media Dapat Eksis di Tengah Riuh Media Sosial dan Pergeseran Minat Pembaca

Arah bisnis yang berbelok tajam ke platform digital, membuat pengelola redaksi mesti mengubah kebijakan untuk mengakomodir perubahan.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
HO
PARA peserta worksop RGE-WAN-IFRA mendengarkan paparan dalam acara yang digelar di Sibolangit, Sumatra Utara, tengah pekan lalu 

BERTAHUN-TAHUN lalu, barangkali sedikit saja yang membayangkan jika media-media yang serius macam Washington Post atau Daily Mail akan memiliki akun media sosial. Lebih sedikit lagi, atau bahkan boleh dibilang tidak ada, yang berani menghubung-hubungkannya dengan media sosial yang dipandang dari sisi mana pun tak memiliki konteks keseriusan.

Dengan kata lain, kontradiksinya terlalu tajam. Serius, bagaimana mungkin berkorelasi dengan yang tak serius. Bahkan cenderung main-main. Katakanlah, misalnya, dengan TikTok. Di negeri ini, di awal kemunculannya, TikTok nyaris identik dengan seorang bocah menawan tapi konyol bernama Prabowo Mondardo alias Bowo Alpenliebe.

Namun sekarang kita tahu kenyataannya tidak demikian. Akun TikTok yang dikelola Washington Post, setidaknya sampai sejauh ini, diikuti sebanyak 1 juta akun. Daily Mail lebih banyak lagi, 3,1 juta akun pengikut.

Pertanyaannya, apakah kedua media ini, juga sejumlah besar media di dunia yang punya akun TikTok, juga mengetengahkan konten-konten serupa para TikTokers?

Sama sekali tidak. Media melakukan penyesuaian-penyesuaian yang menunjukkan jati diri mereka. Terutama menyangkut poin yang selama ini menjadi kekuatan terbesarnya, trust; kepercayaan. Media, sejak awal mula kelahiran menjadi sumber informasi terpercaya.

Gambaran mengenai upaya-upaya yang sudah, dan juga potensial dilakukan media untuk –setidak-tidaknya– mempertahankan eksistensi di tengah segenap riuh rendah media sosial inilah yang antara lain menjadi fokus bahasan Joon-Nie Lau, Director of Asia World Association of Newspapers and News Publishers (WAN IFRA) Asia Pasific. Joon-Nie hadir sebagai pembicara pada workshop yang digelar atas kerjasama WAN-IFRA Asia Pasific dengan Royal Golden Eagle (RGE) di Sibolangit, Deliserdang, Sumatra Utara, tengah pekan lalu.

"Pandemi yang berkepanjangan ini ternyata di lain sisi juga menumbuhkembangkan kreativitas. Termasuk dalam menyajikan kabar-kabar. Para kreator konten terus lahir dengan segala keunikan mereka, dan media, berada di tengah-tengah ini. Sampai di sini, apakah media harus mengikuti, atau mengambil jalan lain," katanya.

Joon-Nie mengetengahkan sejumlah tabel dan grafik yang menunjukkan tren media di tiga kuartal pertama 2021. Secara umum, tabel dan grafik ini memang mencerminkan bahwa saat ini "rezim" memang telah berganti. Platform cetak makin kehilangan dominasi.

Pertanyaannya, apakah juga sudah sepenuhnya kehilangan taji? Ternyata belum. Tabel-tabel dan grafik yang ditunjukkan Joon-Nei memampangkan dengan terang bahwa penurunan cetak yang lumayan drastis tidak diikuti selaras oleh pertumbuhan online (daring). Artinya, kehilangan pendapatan yang besar dari cetak tidak selalu dapat ditutupi pendapatan online. Dan pada beberapa bagian, terutama dari sisi bisnis, cetak masih mendapatkan porsi yang lebih besar.

Maka yang harus dilakukan, kata Joon-Nie, adalah memperluas sinergi. Platform cetak tidak cukup hanya dijalankan berseiringan dengan online dan digital. Lebih jauh, ketiga platfom mesti saling sokong-menyokong.

Halaman
12
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved