Breaking News:

Digitalisasi UMKM

Pempek Nabil, Jangkau Nusantara Berkat Tokopedia

Tokopedia memberikan peluang bagi para pelaku UMKM di Indonesia untuk bangkit bersama membangun kembali ekonomi yang lumpuh akibat pandemi Covid-19

Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
Istimewa
Widyawati, pemilik Pempek Nabil saat menunjukkan produknya belum lama ini.(Ist) 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Pandemi Covid-19 melumpuhkan segala sektor, termasuk perekonomian. Banyak pengusaha yang gulung tikar, termasuk pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM). Bagi sebagian pelaku UMKM, mereka memilih pasrah dengan keadaan. Tapi tak sedikit pula yang terus berusaha, agar roda perekonomiannya tetap berputar. Seperti halnya Widyawati (37). Pemilik Pempek Nabil ini tak patah arang. Ia terus melakukan serangkaian inovasi, termasuk dengan cara bergabung bersama Tokpedia, agar produk pempeknya bisa dipasarkan tidak hanya di tingkat lokal saja, tapi juga ke seluruh pelosok nusantara. Lantas, bagaimana upaya Widyawati memasarkan usahanya dan bisa terus eksis di masa pandemi bersama Tokopedia, berikut kisahnya.

*****

PADA Sabtu (9/10/2021) pagi, rumah sederhana yang dihuni Widyawati di Komplek Menteng Indah, Blok C2 No 40, Kelurahan Medan Tenggara, Kecamatan Medan Denai sudah ramai. Kios kecil yang ada di samping rumahnya mulai dipadati para pekerja. Mereka ini bertugas melayani para pembeli, baik yang datang secara langsung, ataupun yang memesan lewat media sosial. Sementara Widyawati, memantau dan membantu pekerja lainnya di bagian dapur rumah, membuat pempek berbahan ikan tenggiri.

“Ya, beginilah rutinitas sehari-hari. Ada yang melayani orederan, ada yang langsung memproduksi (pempek) di dapur,” kata Widyawati memulai cerita. Di bagian dapur rumahnya, sejumlah karyawan yang menggunakan sarung tangan dan masker mengolah bahan baku ikan tenggiri menjadi pempek berbentuk bola, pipih dan lonjong. Mereka membaginya ke dalam beberapa wadah, lalu mengemasnya ke dalam plastik kedap udara menggunakan alat pres. Dengan begitu, pempek yang akan dijual kepada pelanggan akan tetap steril dan higienis.

Sejumlah pekerja Pempem Nabil mengemas pempek yang baru saja dibuat di rumah Widyawati belum lama ini.(Ist)
Sejumlah pekerja Pempek Nabil mengemas pempek yang baru saja dibuat di rumah Widyawati belum lama ini.(Istimewa)

“Kami harus menjamin kebersihannya,” kata Widyawati. Disinggung lebih lanjut soal usahanya ini, alumnus Universitas Sriwijaya Jurusan Teknik Pertambangan itu menjelaskan, awal dirinya berjualan pempek ketika dilarang sang suami untuk bekerja di luar rumah. Widyawati diminta untuk mengurus anak dan keperluan rumah tangga lainnya. Lantaran tak ingin berpangku tangan pada sang suami, ia pun coba-coba membuat pempek berdasarkan resep orangtuanya.

“Kebetulan saya ini asli orang Palembang,” terang Widyawati. Tahun 2015, Widyawati mulai memberanikan diri membuat pempek dengan jumlah yang sangat sedikit. Ia menjualnya kepada para tetangga, saudara, teman kantor suaminya, bahkan pada orang tua di sekolah sang anak. Pada bulan pertama, respon yang didapat dari para pembeli cukup bagus. Para pembeli senang dengan pempek buatan Widyawati, karena dibuat menggunakan bahan alami tanpa pengawet.

“Pempek saya ini premium. Semua dibuat tanpa pengawet. Dan bahannya full ikan tenggiri,” terang Widyawati. Karena mendapat respon positif, ibu beranak satu ini mulai menjual pempek sebanyak lima sampai 10 pack perharinya. Tiap pack itu berisi lima buah pempek. Untuk harganya, relatif cukup murah. Tiap pack dibanderol dengan harga Rp 20.000 sampai Rp 25.000.

“Pertama kali usaha, semuanya serba dikerjakan sendiri. Kadang dibantu orangtua dan suami,” terang Widyawati. Lambat laun, usaha pempek Widyawati makin berkembang. Dia kemudian menamai produknya dengan Pempek Nabil, yang diambil dari nama sang anak Zavair Nabil Riski. Seiring dengan berkembangnya usaha kecil-kecilan ini, Widyawati sudah memiliki 17 karyawan. Tiap karyawan tidak hanya bertugas mengolah pempek, tapi juga ada yang membuat konten-konten video untuk keperluan media sosial. Dengan cara seperti itu, pemasaran Pempek Nabil bisa lebih maksimal.

“Kalau di awal usaha, memang kendalanya itu ya pemasaran. Paling cuma menggunakan media sosial saja, atau dari teman ke teman,” katanya. Berkat usaha yang tiada henti, sekarang ini costumer tetap Widyawati ada 200 orang. Dari 200 costumer itu, tiap harinya ada yang memesan pempek sebanyak 50 pack, bahkan 100 pack. Di momen-momen tertentu, ada juga costumer yang memesan pempek sampai 200 pack.

“Tergantung lakunya lah. Kadang costumer saya ini ada juga yang sifatnya reseller. Dia pesan untuk dijual lagi,” terang Widyawati. Apa yang disampaikan Widyawati ini diamini oleh costumer tetapnya dari Sabang, Aceh. Irvadiarni Falka, warga Perum BC Kuta Ateuh sudah dua tahun terakhir berlangganan pempek dengan Widyawati. Menurut Irva, tiap dua minggu sekali, dirinya bisa memesan pempek sampai 200 pack untuk dijual kembali.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved